Optimistis Ekonomi Nasional Tumbuh 4,7-5,5%, BI Ingatkan Risiko Ini
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) optimistis perekonomian nasional tahun ini tumbuh 4,7-5,5%, bahkan bisa menuju level 5,3-6,1%. Namun, BI mengingatkan sejumlah risiko ke depan.
"Kami optimistis pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7% hingga 5,5% dan kalau dilihat angka-angkanya terus mengalami peningkatan sehingga di medium term-nya bisa menuju ke 5,3-6,1%,” ujar Deputi Gubernur BI, Aida S Budiman pada Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2023 di Jakarta, Rabu (31/01/2024).
Baca Juga
Harga Minyak Menguat Setelah IMF Naikkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global
Menurut Aida, prospek perekonomian nasional akan tetap kuat pada 2024. “Stabilitas terjaga baik dari sisi internal maupun eksternal," tutur dia.
Meski demikian, Aida Budiman mengingatkan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mewaspadai risiko global yang mungkin dapat mengganggu stabilitas perekonomian Indonesia.
Aida menjelaskan, ada tiga risiko global yang harus diwaspadi, yaitu risiko geopolitik, high for longer ( suku bunga tinggi akan ditahan dalam waktu lama), dan skenario hard landing (kondisi penurunan tajam ekonomi setelah mengalami kenaikan tinggi).
Selain ketidakstabilitan geopolitik akibat konflik peperangan, kata Aida, 2024 merupakan tahun transisi kepemimpinan di beberapa negara. “Tentu kita berharap ketiga risiko global tersebut tidak terlalu berdampak terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri,” tutur dia.
Aida Budiman mengungkapkan, tahun ini pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi masih banyak ditopang oleh permintaan domestik.
Baca Juga
Pemerintah Optimistis Pertumbuhan Ekonomi RI di Atas 5% pada Kuartal IV-2023
"Berdasarkan perhitungan kami, komposisi pertumbuhan ekonomi akan berasal dari permintaan domestik. Untuk itu, Indonesia harus bisa menjaga konsumsi dan investasi," tandas dia.
Dia menegaskan, pencapaian ekonomi 2024 akan menjadi kunci apakah Indonesia mampu mencapai target jangka menengah pertumbuhan ekonomi nasional pada 2028. "Medium term-nya harus bisa menuju ke angka 6%. Jadi, kita butuh pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat," ucap dia.
