Mau Jaga Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%? Indef Sarankan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menyebut pemerintah punya pekerjaan rumah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kuartal-II di atas 5%, yakni menjaga komponen pertumbuhan ekonomi.
"Pekerjaan rumahnya, intinya kita harus bisa menjaga komponen atau instrumen pertumbuhan ekonomi seperti konsumsi rumah tangga, investasi. Karena komponen ini yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kita," kata Heri dalam diskusi Indef, dipantau Jumat (10/5/2024).
Heri menilai konsumsi rumah tangga di dalam negeri belum maksimal. Ini berkaca pada kondisi lebaran yang tidak bisa memberi banyak dampak ke pertumbuhan ekonomi.
"Kemarin ada lebaran, arus balik. Tapi di sisi lain kita lihat juga bagaimana inflasinya, karena harapannya dengan adanya dinamika seperti lebaran, liburan sekolah, bisa mengakselerasi konsumsi," ujar dia.
Ia pun mewanti-wanti bahwa akselerasi belanja rumah tangga bisa terganggu ketika terjadi kenaikan harga. Kondisi ini, kata Heri, dipercaya akan mengganggu daya beli masyarakat.
Baca Juga
Cerah! Gubernur BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi RI Lebih Baik dari Prediksi
"Stabilitas harga harus diperhatikan juga, tidak semata-mata pada kuartal-II ada lebaran Iduladha dan liburan anak sekolah (harga-harga) pasti naik, belum tentu juga. Kalau daya beli anjlok karena inflasi yang tinggi atau terjadi kenaikan pada beberapa komoditas strategis ini jadi ancaman juga," ucap dia.
Heri mengatakan tanpa tercapainya pertumbuhan ekonomi di atas 5%, upaya untuk menjadi negara maju akan sulit terlaksana. Sebab, kata dia, pemerintah akan menjalankan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) mulai 2025-2045.
"Ke depan 2025-2045, kita ada RPJPN yang baru dengan targetnya ending-nya kita masuk menjadi negara maju. Maka rata-rata (pertumbuhan ekonomi) harus 6% per tahun mulai 2025-2045 kalau mau jadi negara maju. Kalau kurang dari 6%, maka jadi negara majunya mundur lagi," kata dia.
Heri menilai saat ini langkah pemerintah untuk menuju pertumbuhan ekonomi di atas 6% belum terlihat. "Sekarang saja kita masih cukup berat berkutat di 5 persenan, misal tahun depan 5,3% bahkan 5,5%. Itu belum cukup untuk memenuhi target rata-rata itu," ujar dia.
