JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah semakin merosot dan hampir mendekati Rp 16.300 per USD. Dalam penutupan perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (19/4/2024) sore, rupiah anjlok ke level Rp 16.280 per USD. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 103 poin dibanding hari sebelumnya, yang sempat menguat di level Rp 16.177 per USD berdasarkan kurs Jidsor yang dirilis Bank Indonesia (BI).
 
Tidak jauh berbeda, mata uang rupiah juga terkapar dalam pantuan perdagangan spot antarbank, sebagaimana dilansir Yahoo Finance. Rupiah merosot 78 poin ke level Rp 16.250 per USD, dalam penutupan perdagangan Jumat (19/4/2024) ini.
 
"Meningkatkan tensi eskalasi politik di kawasan Timur Tengah akibat konflik Iran dan Israel menjadi salah satu sentimen terkuat mendorong anjloknya mata uang rupiah dalam perdagangan spot akhir pekan ini. Mata uang rupiah hari ini bergerak pada rentang Rp 16.255-16.288 per dolar Amerika Serikat," kata Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman, Jumat (19/4/2024). 


Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun 2023 hingga 19 April 2024. Infografis: Riset Investortrust.  
 
 
 
Ledakan di Iran, Suriah, dan Irak
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap greenback Jumat ini terjadi usai kabar adanya ledakan di Iran, Suriah, dan Irak pada pagi hari (19/4) WIB atau malam (18/4) waktu setempat terjadi. Dilansir dari CBS dan ABC News, ledakan tersebut berasal dari hantaman rudal sebagai balasan Israel atas aksi Iran akhir pekan lalu.
 
Ketegangan tersebut membuat hampir seluruh mata uang global mengalami depresiasi, termasuk rupiah. Disebut oleh Faisal Rachman, hal tersebut diakibatkan sentimen risk-off menguat dan permintaan akan aset safe haven seperti dolar AS, UST, dan emas semakin meningkat.
 
Namun, dicermati oleh Ekonom Bank Permata tersebut, situasi saat ini menunjukkan adanya indikasi penurunan tensi usai Iran memberikan sinyal tidak akan melakukan reaksi aktif usai terjadinya ledakan di sekitar wilayah Isfahan tersebut. Analisis tersebut ia sebut berdasarkan perkembangan kondisi harga minyak dunia saat ini.
 
"Meredanya ketegangan pasar juga terlihat dari harga minyak Brent. Minyak ini yang sudah kembali ke level di bawah USD 90 per barel," kata Faisal.


FFR Higher-for-Longer hingga 2025 
Selain konflik Iran dan Israel, tren depresiasi rupiah juga disebabkan imbas pejabat Federal Reserve yang kembali mempertegas suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) tinggi akan bertahan lebih lama, atau higher for longer. Faisal menyoroti sejumlah komentar pejabat The Fed terkait kebijakan suku bunga acuan negara dengan ekonomi terbesar dunia itu. Seperti komentar Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, yang melihat adanya kemungkinan tidak ada pemangkasan suku bunga hingga tahun 2025.
 

Kemudian, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan, kenaikan suku bunga kebijakan bukan merupakan opsi utama kebijakan The Fed dalam pengendalian inflasi di negara adidaya itu.  "Tetapi, dia (Williams) mengungkapkan adanya kemungkinan hal tersebut dapat terjadi jika risiko inflasi AS tidak kunjung mereda," ucap Faisal.
 
Sepanjang minggu ini, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 2,52% wtw akibat rilis beberapa data indikator ekonomi AS terkini menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam tetap solid, plus naiknya tensi geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko inflasi dunia. Pada bulan ini, rupiah terdepresiasi sebesar 2,46% mtd, dan jika dibandingkan dengan penutupan akhir tahun lalu, rupiah sudah melemah 5,28% ytd.