IPO Saham Bank Mega Syariah Dipercepat, Kenapa Tidak?
JAKARTA, investortrust.id – Bank Mega Syariah berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2026. Namun, bisa saja IPO dipercepat jika kondisi perusahaan dan situasi pasar benar-benar mendukung.
“Kami nggak muluk-muluk juga. Saya bilang kepada teman-teman, bersabar kira-kira dua tahun lagi deh untuk IPO,” ujar Direktur Utama Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo dalam media gathering dan acara buka puasa bersama pimpinan media massa di Jakarta, Selasa (26/3/2024).
Baca Juga
Tren ‘Halal Lifestyle’ Terus Meningkat, Bank Mega Syariah Terapkan Strategi Ini
Meski demikian, menurut Yuwono, bisa saja Bank Mega Syariah melangsungkan IPO lebih cepat dari target, terutama jika faktor internal (fundamental perusahaan) dan eksternal (kondisi pasar) mendukung.
“Perjalanannya pasti akan dipengaruhi proses-peoses yang makin terlihat baik. Pasar makin baik, kondisi perusahaan juga lebih baik, lalu investor punya ekspektasi baik. Kalau bisa IPO pada 2025 karena bisnis kami sudah bisa lari cepat, why not? Tentunya itu semua sudah kami diskusikan dan keputusannya ada di pemegang saham,” papar dia.
Proses perbaikan itu, kata Yuwono Waluyo, sudah berlangsung. Manajemen berkomitmen terus menjaga momentum positif tersebut agar bisnis Bank Mega Syariah tumbuh berkelanjutan (sustainable).
“Beberapa proses itu sudah dimulai, semua aspek harus kami jagain karena saham kami akan dimiliki publik. Kami harus mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat,” tegas dia.
Yuwono mengakui, sebagai anggota konglomerasi CT Corp, Bank Mega Syariah bisa memanfaatkan berbagai kanal bisnis perusahaan-perusahaan milik pengusaha nasional Chairul Tanjung itu.
“Mega Capital Sekuritas mungkin bisa membantu kami untuk underwriting-nya,” tutur Yuwono yang tidak bersedia menyebutkan target dana IPO dan ancar-ancar jumlah saham Bank Mega Syariah yang bakal dilepas ke publik.
Pemilik Bank Mega Syariah adalah PT Mega Corpora (99%) dan PT Para Rekan Investama (0,01%). PT Mega Corpora dimiliki PT CT Corpora (99,99%) dan PT Para Rekan Investama (0,01%). Sedangkan saham PT Corpora dan PT Para Rekan Investama yang membawahi CT Corp dimiliki Chairul Tanjung dan keluarga (100%).
Lebih Selektif dan Hati-Hati
Yuwono Waluyo juga mengungkapkan, di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian saat ini, Bank Mega Syariah terus berupaya menjaga kualitas pembiayaan untuk mencegah kenaikan pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF).
Agar kualitas pembiyaan tetap terjaga, menurut dia, Bank Mega Syariah menerapkan prinsip kehati-hatian perbankan (prudential banking) secara intens, di antaranya selektif memilih debitur, fokus ke sektor bisnis dengan histrorikal baik, dan hanya menyalurkan pembiayaan kepada perusahaan tersegmentasi (segmented) dengan ketahanan bisnis yang mumpuni.
Baca Juga
“Misalnya kami fokus ke sektor pendidikan dan kesehatan yang secara segmen punya business banking sekaligus konsumer. Salah satunya yaitu rumah sakit yang ekosistemnya sudah jalan. Ada dokter, karyawan, supplier obat-obatan dan alkes, lalu kami juga masuk ke pasien,” ujar dia.
Tahun lalu, NPF gross Bank Mega Syariah terjaga di level 0,98%, lebih baik dibanding tahun sebelumnya di level 1% lebih, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 30,86%.
Dia menambahkan, pada 2023, Bank Mega Syariah membukukan laba bersih Rp 238,7 miliar, naik 3% dibanding 2022 yang mencapai Rp 232,2 miliar. “Tahun lalu,aset Bank Mega Syariah mencapai Rp 14,57 triliun dengan funding Rp 10,44 triliun dan financing Rp 6,99 triliun,” kata dia.
