HSBC: Indonesia Punya 3 Keunggulan sebagai Tujuan Investasi EV
JAKARTA, investortrust.id – HSBC menyebutkan tiga keunggulan Indonesia sebagai negara tujuan investasi di bidang kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Global Head of International Bank HSBC Noor Adhami mengatakan, salah satunya adalah makroekonomi Indonesia yang masuk 20 besar di dunia.
“Indonesia adalah salah satu dari 20 negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Jika Anda melihatnya, ini adalah PDB terbesar yaitu US$ 1,4 triliun tahun lalu,” ujar Adhami dalam HSBC Investment Forum bertajuk Mengembangkan ekosistem EV yang kuat di Indonesia, baru-baru ini.
Sedangkan dari sisi demografi, dia menegaskan bahwa Indonesia dipenuhi populasi muda, diiringi peningkatan kelas menengah. Dengan begitu terdapat banyak permintaan konsumsi yang ingin dimanfaatkan oleh setiap investor.
Keunggulan Indonesia yang kedua adalah sektor spesifik, yakni lingkungan yang menguntungkan. Berbicara tentang kendaraan listrik, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yaitu 27% dari cadangan dunia.
“Apalagi konsumsi dan permintaannya ada, pasar otomotif terbesar, sekaligus sisi produksi terbesar kedua,” sambung Adhami.
Hal ketiga yang diperhatikan investor asing sebelum memutuskan untuk berinvestasi adalah seberapa ramah negara tersebut terhadap investor asing. Adhami mengakui, saat ini Indonesia telah memberi sejumlah insentif untuk investasi asing, dibarengi kebijakan pemerintah yang cerdas, serta regulasi-regulasi pendukungnya.
Baca Juga
Kepala KSP Akui Indonesia Tertinggal dalam Pengembangan Mobil Listrik
“Semua hal itu penting ketika investor asing datang dan tertarik pada suatu pasar. Indonesia memiliki semua hal tersebut. Itu mengapa kami gembira dengan Indonesia, juga kami terus berinvestasi di dalamnya,” tega dia.
Dalam kesempatan yang sama, Managing Director, Head of Wholesale Banking HSBC Indonesia Riko Tasmaya mengatakan, Indonesia berada pada posisi yang strategis dan memiliki berbagai potensi untuk menjadi pusat rantai pasok EV.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan untuk produksi baterai kendaraan listrik, serta skala konsumen domestik di sektor hilir kendaraan listrik,” ujarnya.
Selain itu, terdapat peluang investasi besar di sepanjang rantai pasokan untuk membangun ekosistem EV yang komprehensif.
Baca Juga
Multifinance Sulit Menyalurkan Pembiayaan Mobil Listrik, Ternyata Ini Penyebabnya
Sebagai bank internasional dengan sejarah 140 tahun di Indonesia, HSBC berkomitmen mendukung pertumbuhan industri yang penting bagi perekonomian Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memfasilitasi investasi untuk mendukung pertumbuhan rantai pasokan kendaraan listrik di Indonesia.
Menurut laporan HSBC Global Research, sekitar US$ 30 miliar investasi asing telah terjadi di bidang logam olahan di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Akan terdapat tambahan investasi sebesar US$ 30 miliar pada logam olahan selama lima tahun ke depan, dan investasi sebesar US$ 45 miliar telah diumumkan pada sektor kendaraan listrik.
Peningkatan ekosistem kendaraan listrik diprediksi dapat mendorong potensi pertumbuhan Indonesia dari 5,3% menjadi 5,8% pada 2028.
