Harga Saham BBRI Masih Dalam Tekanan? Analis Beri Komentar Ini
JAKARTA, investortrust.id - Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih mengalami tekanan hingga perdagangan Selasa (23/4/2024). Saham BBRI belum mampu mengubah secara cepat arah dari tren negatif yang telah berlangsung dalam beberapa sesi terakhir. Padahal sentimen dan tensi Iran - Isreal sudah mereda.
Pada penutupan perdagangan hari ini, terpantau pergerakan harga saham BBRI stagnan di Rp 5.300 per lembar. Sepekan saham BBRI sudah ambles 3,20% dan dalam sebulan ini turun 13,47%.
Sedangkan di saat yang sama saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil menguat cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari ini. Saham BBCA terpantau terbang 375 poin atau 4,01% ke Rp 9.725 per lembar. Lalu saham BMRI naik 1,49% menjadi Rp 6.825.
Meski harga sahamnya masih melemah, namun di sisi lain, jumlah pemegang saham BBRI ternyata mengalami kenaikan sebanyak 16.536 di bulan Maret 2024 menjadi 349.827 orang. Para analis meyakini harga saham BBRI masih punya peluang pertumbuhan dalam jangka pendek.
Baca Juga
Kualitas Aset dan Permodalan Bank Nasional Kuat, Saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS Menarik!
Head Of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie WP mengatakan, saham-saham sektor perbankan sempat mengalami koreksi akibat sentimen kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan juga kemungkinan akan dinaikkannya suku bunga acuan BI untuk menjaga kestabilan rupiah.
Selain itu, eskalasi geopolitik antara Israel dan Iran pada akhir pekan lalu juga menyebabkan terjadinya koreksi secara menyeluruh pada pasar.
Namun sektor perbankan, menurutnya punya peluang yang amat menarik karena secara fundamental sebenarnya masih ada potensi penguatan.
Pada kuartal pertama 2024, BBCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp 12,9 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 11,7% secara tahunan, hal ini sesuai dengan konsensus analis.
Untuk saham BBRI, memang belum mempublikasikan performa kuartal pertama 2024 ini. Hal tersebut menyebabkan investor saat ini lebih memilih untuk membeli saham BBCA yang masih mencatatkan pertumbuhan laba yang baik. Terlebih pada saat ini sangat banyak ketidakpastian yang menyelimuti pasar.
“Investor saat ini sedang menunggu performa kuartal pertama dari BBRI, yang jika ternyata mencatatkan hasil yang baik, maka akan diikuti pula dengan kenaikan harga saham BBRI,” katanya kepada investortrust.id, Selasa (23/4/2023).
Baca Juga
Meski Likuiditas Ketat, Pertumbuhan Kinerja BRI (BBRI) Diprediksi Tetap Kuat
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, saat ini investor tengah menantikan kinerja laporan keuangan BBRI. BRI yang terkenal dengan kredit UMKM juga punya potensi yang besar ke depannya. “UMKM memang banyak sekali membutuhkan kredit dalam rangka untuk memajukan usahanya seperti itu,” katanya.
Namun menurutnya untuk long term saham BBRI masih cukup bagus. “Karena secara primary trend BBRI tergolong bullish,” katanya.
Sementara secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pergerakan emiten-emiten perbankan saat ini masih berada di fase down trend termasuk BBRI.
"Melihat pergerakannya (sektor perbankan), hari ini masih muncul adanya volume penjualan pada BBRI disertai dengan pergerakan MACD dan Stochastic yang masih berada di area negatifnya. Di sisi lain, BBRI masih menyisakan gap bawah yang belum ditutup di area 5.125," ujar Didit.
Meski begitu, saham BBRI dimungkinkan adanya technical rebound. Menurutnya Saham BBCA bisa meroket diperkirakan adanya rilis kinerja kemarin, yang mana laba bersih BBCA naik 11,7% secara tahunan.
Seperti pemberitaan sebelumnya, Didit menilai emiten yang dirugikan adalah emiten big caps seperti sektor perbankan yang menjadi pemberat IHSG. Alasan tersebut, kata Didit, emiten perbankan sudah bergerak menguat semenjak awal tahun 2024 dan telah membagikan dividen.
“Hal ini cukup lumrah, mengingat capital gain yang cukup besar dan ada aksi profit taking untuk mengalihkan dari emiten perbankan ke komoditas atau terburuknya adalah outflow dari market dan mengamankan aset,” ujar Herditya.
