Gencar Hadirkan Inovasi, BCA Kerahkan 64 Perusahaan Mini
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk sangat getol dalam menghadirkan fitur-fitur baru sebagai bagian dari inovasi teknologi, demi memuaskan kenyamanan konsumen. Untuk itu, BCA mendirikan perusahaan-perusahaan mini (mini company/micom), dengan tugas utama mengerjakan proyek-proyek inovatif.
“Semua bank berlomba-lomba mengadopsi teknologi digital demi bisnis dan pelayanan yang lebih efisien. Inovasi menjadi kata kunci untuk mengikuti tren kebutuhan efisiensi dan efektivitas di masyarakat,” kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaajmadja dalam sesi khusus bertema “Beyond Banking” yang digelar Infobank, Senin malam (1/4/2024).
Jahja menjelaskan, perusahaan mini (micom) sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses digitalisasi BCA, sekaligus untuk mengakselerasi pembuatan inovasi berbagai fitur. Dulu, untuk menghasilnya sebuah fitur dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bisa lebih dari setahun, termasuk untuk perizinannya. Kini dengan konsep micom, pembuatan fitur bisa lebih cepat dan efisien. Dia mengakui, pendirian micom ini awalnya untuk mengimbangi gerakan financial technology (fintech) yang agresif dalam inovasi dan digitalisasi.
Meski awal pendirian micom tidak mudah karena terkait kepercayaan dan kewenangan, seiring berjalannya waktu, konsep perusahaan mini tersebut terbilang sukses. “Akhirnya micom itu bisa melahirkan produk-produk yang inovatif dan user-friendly. Lahirnya mini company ini memang tak bisa dilepaskan dari gempuran fintech yang agresif pada tujuh tahun lalu,” tegas Jahja.
Baca Juga
Menurut Jahja, BCA saat ini memiliki 64 micom dengan total anggota sekitar 1.900 pekerja. Ada tiga fungsi utama micom. Pertama, sebagai hustler, yakni yang bertanggung jawab dalam proses bisnis perusahaan agar mampu mengakomodasi kemauan konsumen.
Fungsi kedua adalah hipster, yang terdiri para ahli desain tampilan fitur agar memberikan user experience maksimal. Ketiga adalah hacker yang bertugas membuat program-program khusus di komputer.
Pada bagian lain insight-nya, Jahja juga menekankan pentingnya bankir untuk menganut agility (kelincahan) dalam menyikapi ketidakpastian yang tinggi saat ini. Dia menyebut bahwa saat ini hampur semua bidang kehidupan sulit diprediksi. Sistem yang telah dibuat secara baik pun bisa terdisrupsi sewaktu-waktu sehingga membutuhkan perubahan.
Pelajaran agility itu dia dapat dari pengalamannya selama berkarier di BCA. Sebagai seorang akuntan, Jahja sangat disiplin kaku soal bujet dan target, bahkan ibarat kitab suci. “Pengalaman saya membuktikan, kalau kita terlalu harga mati terhadap target. Ternyata itu tidak benar. Yang kita butuhkan adalah agile,” kata dia.
Jahja mengaku belajar agility sejah tahun ’90-an. Dia menyadari bahwa target dan bujet itu harus fleksibel. Harus melihat situasi dan kondisi lapangan. Apalagi di dunia perbankan yang sangat tergantung pada kondisi makro ekonomi. “Ketika kondisi bagus, kita full gas untuk kredit dan DPK. Tapi kalau kondisi ekonomi susah ya harus hati-hati,” tutur Jahja.
Baca Juga
