Gas Terus, Tahun Pemilu Tak Bikin Investasi di Indonesia Loyo
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan menyebut investasi di Indonesia tetap tumbuh, meski memasuki tahun pemilihan umum (pemilu). Hal ini disimpulkan dengan merujuk realisasi nilai investasi pada dua musim pemilu sebelumnya.
Pada tahun 2013, realisasi investasi Rp 390,3 triliun, sedangkan di 2014 mencapai Rp 456,6 triliun. Dengan kata lain, lanjut dia, investasi tumbuh 17%, meski pertumbuhan tersebut lebih kecil ketimbang dari tahun 2012 ke 2013 yang mencapai 24,6%.
Sementara itu, pada tahun 2018 investasi di Indonesia mencapai Rp 721,3 triliun, sedangkan di 2019 angkanya meningkat menjadi Rp 809,6 triliun. Ini menunjukkan investasi bertumbuh 12,2%.
"Pertumbuhan tersebut meningkat ketimbang pertumbuhan dari tahun 2017 ke 2018 yang hanya 4,1%. Jadi, dari sisi nilai investasi itu tetap meningkat. Sehingga kita melihat, berdasarkan data dan fakta ini, bahwa pemilu yang berlaku di Indonesia memberikan kontribusi positif terhadap investasi,” kata Nurul Ichwan dalam acara Investortrust Economic Outlook 2024, di Jakarta, Kamis (25/01/2024).
Baca Juga
Ketidakpastian Global Tinggi, Pengusaha Minta Pemerintah Jaga Kondusivitas Iklim Investasi
Kendati demikian, Nurul Ichwan tidak memungkiri bahwa selalu ada faktor wait and see selama berlangsungnya musim pemilu. Selain itu, lanjut dia, investor yang berinvestasi di Indonesia ada dua kelompok.
“Kami klasifikasikan ke dalam dua kelompok. Ini adalah mereka yang sudah masuk kemudian merealisasikan rencana investasinya, dan mereka yang belum masuk untuk kemudian berinvestasi di Indonesia,” ujar dia.
Skandal Malaysia
Ia menjelaskan lebih lanjut, persoalan politik sejatinya kerap memengaruhi iklim investasi di suatu negara. Malaysia misalnya, meski investasi di negara tersebut tidak terlalu terdampak karena pemilu, namun mereka mengalami penurunan investasi saat terjadi skandal 1MDB yang melibatkan mantan perdana menterinya, Najib Razak.
“Yang terjadi di Malaysia itu penurunannya bukan karena faktor pemilu. Tapi, waktu itu isunya adalah 1MDB yang menjadi krisis di sana dan perdana menterinya terlibat,” ujar Nurul Ichwan.
Baca Juga
Realisasi Investasi Tembus Rp 1.418 Triliun di 2023, Sektor Sekunder Sumbang 52%
Sementara itu di India, terjadi wait and see dari para investor saat pemilu berlangsung di negara tersebut. Pada 2012-2013, investasi di India US$ 34,30 miliar, dan pada 2013-2014 US$ 36,05 miliar. Padahal, sebelum pemilu yakni pada 2011-2012, investasi di India mencapai US$ 46,56 miliar.
Begitu pun yang terjadi di tahun 2017-2018, di mana investasi di India berada di angka US$ 60,97 miliar, dan di tahun 2018-2019 US$ 62,00 miliar. Sementara, setelah pemilu berlangsung yakni di tahun 2019-2020, investasinya langsung melesat ke US$ 74,39 miliar.
