BRI Tak Mau Jadi Bank Digital 100%, Ternyata Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust – Di tengah masifnya bank-bank nasional melakukan digitalisasi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) justru tidak agresif mendigitalkan seluruh layanannya. Emiten bersandi saham BBRI itumemilih menjadi bank hibrida, alih-alih menjadi bank digital 100%.
“Dalam menghadapi persaingan ke depan, kami tetap percaya bahwa hybrid banking adalah solusi terbaik,” kata Division Head of Digital Banking Development and Operation Division BRI, Kaspar Situmorang dalam penjurian Digital Bank Awards (DBA) yang diselenggarakan investortrust.id di Jakarta, Rabu (22/11/2023).
Baca Juga
Sempat Disalip BREN, BRI (BBRI) Kembali Tempati Market Cap Terbesar Kedua
Menurut Kaspar, digitalisasi saja tidak cukup, mengingat BRI punya karakteristik berbeda dibanding bank-bank lain. Harus ada pendekatan fisik (offline) untuk melayani seluruh nasabah di seluruh pelosok Tanah Air, termasuk di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Itu sebabnya, BRI memilih bank hibrida dalam model bisnisnya ketimbang full digital.
“Jumlah SDM kamisangat banyak. Begitu pula portofolio dan nasabah kami yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Tidak mungkin semua terlayani kalau kami menggunakan pendekatan full digital,” ujar dia.
BRI saat ini tercatat sebagai bank terbesar di Indonesia. Dengantotal aset Rp 1.696,62 triliun dan 356 jaringan kantor, BRI kini melayani 160 juta nasabah.
Baca Juga
Bursa Saham Bergairah, CGS-CIMB Sekuritas Rekomendasi BBRI, BMRI, dan HMSP
Tak kalah penting, kata Kaspar, masih ada sekitar 90 juta masyarakat Indonesia yang belum terlayani perbankan. BRI punya misi agar 90 juta orang itu bisa terlayani perbankan sebagaimana diamanatkan pemerintah. Selaintersebar di berbagai pelosok daerah, termasuk kawasan 3T, mereka belum familiar dengan teknologi dan digitalisasi.
“Ini berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jadi, tidak mungkin mereka bisa terlayani jika kamifully digital,” papar dia. (CR-2)
