Bitcoin Rebound, Uji Level US$ 44.500 Lagi?
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin (BTC) terpantau rebound dengan kenaikan 4,35% dalam tujuh hari terakhir. BTC sempat rebound naik kembali ke kisaran US$ 43.000 setelah Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu (13/12).
The Fed memilih kembali mempertahankan suku bunganya. Dalam empat dari lima pertemuan FOMC terakhir, termasuk yang berakhir pada pekan lalu, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga pada level 5,25-5,5%. Sebelumnya, mereka menaikkan suku bunga sebanyak 11 kali dalam dua tahun terakhir.
“Awal pekan ini, Bitcoin yang sering dianggap sebagai penentu arah pasar kripto, telah berhasil kembali menguat dan bertengger ke atas level US$ 42,000,” ujar Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha, yang dikutip pada Rabu (20/12/2023).
BTC telah membukukan reli mingguan terpanjang sejak 2017 dengan tumbuh selama delapan pekan, sebelum akhirnya terhenti pekan lalu. Momentum kenaikan beruntun Bitcoin terhenti dimana BTC sempat turun ke harga US$ 40.200 pada Senin (12/12), setelah mencapai US$ 44.500 pekan sebelumnya.
Adapun Ethereum (ETH) masih kokoh bertahan di atas psikologis support US$ 2.000, naik 3,2% dan bertengger di harga US$ 2.215 dalam sepekan terakhir. Total kapitalisasi pasar kripto pun kembali menguat 2,3% dalam 24 jam terakhir.
Pemulihan tersebut diikuti pergerakan altcoin yang juga menguat. Salah satu aset kripto dengan kenaikan tertinggi dalam tujuh hari terakhir adalah WOO Network (WOO) yang naik 80,19% hingga mencapai harga US$ 0,443. Ada pula Worldcoin yang dikembangkan Founder OpenAI Chat GPT, mengalami kenaikan 58,61% terdampak sentimen Chat GPT 4.5 yang akan diperkirakan rilis sebelum pergantian tahun.
Selain itu, Injective (INJ) menguat 42,24% menjadi US$ 37,15, melanjutkan reli dua pekan terakhir, didorong sentimen peluncuran obligasi hijau Hong Kong yang didukung teknologi blockchain, serta China Mobile Hong Kong (CMHK) yang peluncuran marketplace NFT.
Panji kembali menegaskan bahwa sikap dovish The Fed pekan lalu telah memberi sentimen positif ke pasar kripto, meski Bitcoin masih kesulitan menembus resistensi. Sedangkan pekan ini, terdapat serangkaian data ekonomi yang akan rilis.
Kamis nanti (21/12/2023), Laporan PDB kuartal ketiga akan memberikan gambaran terakhir mengenai kesehatan perekonomian AS pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi negara adidaya tersebut diperkirakan tetap stabil di angka ekspansi ekonomi tahunan sekitar 5,2%.
Baca Juga
BlackRock Terima Pendanaan Awal US$ 100 Ribu untuk Perdagangan ETF Bitcoin
Pada hari yang sama, klaim pengangguran, survei manufaktur, dan indikator perekonomian utama AS juga akan dirilis. Sedangkan pada Jumat (22/12), data pengeluaran konsumsi pribadi dasar periode November akan dipublikasikan, diharapkan menunjukkan penurunan inflasi sekitar 3,2%.
“Meskipun pekan ini terdapat beberapa peristiwa ekonomi AS, pelaku pasar masih cukup optimis atas pertemuan Federal Reserve pekan lalu. Pelaku pasar antusias dengan potensi pemangkasan suku bunga sekitar 25 basis poin pada Maret 2024,” tutur Panji.
Hal tersebut didorong oleh harapan penurunan suku bunga yang signifikan tahun depan akibat penurunan inflasi di AS. Dengan begitu pasar kripto kemungkinan besar tidak akan terpengaruh oleh rilis data ekonomi di AS pekan ini. (CR-10)
Baca Juga
Pasar Bitcoin Sedang Bullish, Pesohor Kripto Justru Beri Warning Ini
