BI: Sektor Keuangan RI Punya Ketahanan Hadapi Buruknya Ekonomi Global
JAKARTA, Investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis dengan ketahanan sektor keuangan Indonesia. Optimisme itu disampaikan Perry setelah melakukan stress test.
“Hasil stress test menunjukkan sektor keuangan Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat,” kata Perry, saat menyampaikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Jumat (3/11/2023).
Perry mengatakan ketahanan keuangan Indonesia bisa terjadi karena adanya bantalan atau buffer terhadap risiko yang memadai. Bantalan tersebut tecermin dari adanya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang kuat. “Secara industri di atas 25%,” kata dia.
Baca Juga
Dalam presentasi yang disampaikan CAR industri perbankan tercatat sebesar 27,41%. Dengan intermediasi yang berjalan dengan baik.
“Pada September 2023, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 8,96% yoy (pada kuartal yang sama periode tahun lalu sebesar 9,06% yoy) menjadi Rp6.837,30 triliun, dengan pertumbuhan tertinggi pada kredit investasi sebesar 11,19% yoy,” kata dia.
Perry menyebut likuiditas yang mencukupi juga menjadi bantalan risiko. Dia menyebut rasio Alat Likuid/DPK di atas sekitar 25,83%. Sedangkan Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) berapa pada 115,37%.
“Apalagi Bank Indonesia juga masih menyediakan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial, KILM, itu sisanya masih sekitar Rp 20 triliun, dari yang disediakan Rp 50 triliun,” ujar dia.
Baca Juga
KSSK Sebut Stabilitas Keuangan Indonesia pada Kuartal III Masih Terjaga
Perry menyebut, pelonggaran likuiditas buffer (PLM) juga mengalami penurunan rasio sebesar 100 bps menjadi 5%. Dengan penurunan itu, ada penambahan dana sebesar Rp 81 triliun.
“Jadi likuiditas itu bantalannya besar dan rasio kredit bermasalah, rendah,” ucap dia.
Kualitas kredit bermasalah yang disampaikan Perry terjaga pada 0,77% untuk NPL net perbankan dan 2,43% untuk NPL gross. (CR-7)
