BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 2,9% Tahun Ini dan 2,8% 2024
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi global akan tumbuh sebesar 2,9% tahun 2023 dan melambat menjadi 2,8% pada 2024 dengan kecenderungan risiko yang lebih rendah.
Prediksi BI tersebut lebih tinggi dari sebelumnya yang menyebut ekonomi global hanya akan tumbuh 2,7% tahun 2023.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan perlambatan perekonomian global disebabkan kondisi ketidakpastian yang semakin tinggi.
“Kami memperkirakan global akan melemah dan disertai divergensi pertumbuhan antarnegara yang semakin melebar,” papar Perry Warjiyo dalam keterangan tertulis, Kamis, (19/10/2023).
Baca Juga
Stabilkan Nilai Tukar Rupiah, BI Naikkan BI7DRR Sebesar 25 Bps
Sebelumnya BI menggelar Rapat dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Oktober 2023 dan memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.
Lebih lanjut Perry mengatakan, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2023 masih tumbuh kuat terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan sektor jasa yang berorientasi domestik, sedangkan Tiongkok melambat dipengaruhi oleh pelemahan konsumsi dan penurunan kinerja sektor properti.
Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga energi dan pangan meningkat sehingga mengakibatkan tetap tingginya inflasi global.
Baca Juga
Untuk mengendalikan inflasi, suku bunga kebijakan moneter di negara maju, termasuk Federal Funds Rate (FFR), diprakirakan akan tetap bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).
Kenaikan suku bunga global diperkirakan akan diikuti pada tenor jangka panjang dengan kenaikan yield obligasi Pemerintah negara maju, khususnya AS (US Treasury), akibat peningkatan kebutuhan pembiayaan utang Pemerintah, dan kenaikan premi risiko jangka panjang (term-premia).
“Berbagai perkembangan tersebut mendorong pembalikan arus modal dari negara Emerging Market Economies (EMEs) ke negara maju dan ke aset yang lebih likuid, yang mengakibatkan dolar AS menguat secara tajam terhadap berbagai mata uang dunia,” urai Perry.
Dikatakan, ketidakpastian ekonomi dan keuangan global semakin tinggi karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, karenanya memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global terhadap ketahanan ekonomi domestik di negara-negara EMEs, termasuk Indonesia.
