BCA Ungkap Likuiditasnya Masih Sangat Baik
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengatakan likuiditas bukan menjadi isu yang utama bagi perseroan pada tahun 2024. Pasalnya, bank swasta terbesar di Indonesia ini masih mencatatkan likuiditas yang terjaga dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) di level 70,20%.
Untuk diketahui, kondisi LDR yang tinggi menunjukkan kondisi likuiditas suatu bank semakin ketat. Sebaliknya, jika LDR tercatat dalam level yang rendah, maka likuiditas suatu bank berada pada kondisi yang semakin longgar atau baik, sehingga memungkinkan bank untuk leluasa berekspansi untuk mengucurkan kredit demi meningkatkan pendapatan bank.
"Jadi dari sisi profil risiko ya, itu likuiditas itu kita berada di level low, artinya low itu sangat bagus," ujar Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono kepada Investortrust.id saat menghadiri malam anugerah The Best Investortrust Companies 2024 yang digelar oleh portal data dan berita ekonomi independen, Investortrust.id di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (16/5/2024).
Lebih lanjut, Widodo menyebut, publik harus melihat lebih komprehensif soal tingkat LDR sebuah bank, khususnya pada BCA yang memiliki rasio LDR yang relatif baik. Rasio LDR yang dimiliki BCA terbilang baik karena tingginya kepercayaan nasabah untuk menempatkan dananya di bank milik Grup Djarum tersebut. Di sisi lain, LDR di level yang longgar juga tak bisa diartikan bank ‘malas’ menyalurkan kredit.
Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono berbincang santai dengan Investortrust di sela acara The Best Investortrust Companies 2024 di Jakarta, Kamis, (16/5/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
Baca Juga
"LDR itu kan angka pembilang (kucuran kredit, red) dibagi penyebut (dana pihak ketiga). LDR itu bisa turun (rendah) karena penyebutnya (dana pihak ketiga) kencang, dananya masuk banyak. Pembilangnya itu, untuk menyalurkannya harus ada underwriting, analisa. Itu kan hati-hati, prudent,” kata Widodo
“Di pembilangnya (kredit) ini, outstanding ya, kredit ini kalau gak ada kebutuhan di nasabah gak akan dipakai. Makanya kita LDR sekitar 70%-72%," jelas Widodo.
Dengan kondisi tersebut, sehingga BCA memiliki keleluasaan atau ruang untuk bisa mendorong kucuran kredit. Dengan kata lain, hal ini menjadi keuanggulan yang dimiliki BCA dibandingkan bank lain.
"Tapi dalam historical data kita, memang LDR kita di sekitar itu," katanya.
Di sisi lain, Widodo menegaskan bahwa di industri finansial seperti bank, ada semacam adagium bahwa likuiditas adalah raja, liquidity is a king. Sementara ratunya adalah profitability. "Jadi, tetap harus ada (keduanya), karena dari profitability nanti modal akan dibangun," ujarnya.
Sebagai informasi, BCA telah menyalurkan kredit senilai Rp 835,7 triliun pada kuartal I-2024, atau naik 17,1% secara tahunan (YoY). Secara rinci, Kredit korporasi tumbuh 22,1% YoY sehingga totalnya Rp 389,2 triliun per Maret 2024, sementara kredit komersial naik 9,3% YoY menjadi Rp 125,2 triliun. Per Maret 2024, kredit UKM BCA naik 13,5% YoY mencapai Rp 110,4 triliun.
Sementara itu, kredit konsumer juga meningkat 14,9% YoY menjadi Rp201,6 triliun. Pertumbuhan kredit konsumer ditopang oleh KPR BCA yang naik 11,0% YoY mencapai Rp121,7 triliun, KKB yang tumbuh 22,2% YoY menjadi Rp59,8 triliun, serta kenaikan outstanding pinjaman konsumer lainnya sebesar 22,6% YoY mencapai Rp 17,1 triliun.
