Bappenas: Pendidikan Faktor Penting Keluar dari Middle Income Trap
JAKARTA, investortrust.id - Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting bagi Indonesia agar keluar dari middle income trap (jebakan kelas menengah).
Inovasi dan kemampuan nilai tambah hanya mampu muncul jika pendidikan masyarakat Indonesia didominasi lulusan pendidikan menengah atas dan tinggi.
“Syarat pokok untuk meningkatkan produktivitas ekonomi adalah soal nilai tambah,” kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amich Alhumami kepada investortrust.id, di kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (12/02/2024).
Amich mengatakan nilai tambah ini berkorelasi dengan inovasi. Ini dipengaruhi oleh penduduk angkatan kerja dari pendidikan menengah atas dan tinggi.
Baca Juga
Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat, Cek Sentimen Pendorongnya
“Merekalah yang punya kemahiran dan inovasi yang tinggi,” kata dia.
Saat ini, kata Amich, Bappenas merancang strategi pendidikan dengan melihat struktur kelompok umur yang memerlukan layanan pendidikan. Penduduk berumur 5-6 tahun memerlukan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), umur 7-15 tahun memerlukan layanan pendidikan SD dan SMP. Sementara itu, usia 15-18 tahun memperoleh layanan pendidikan dan bisa di sistem persekolahan.
“Kalau sekarang, pendidikan dasar dan menengah sampai SMP relatif sudah tinggi tingkat partisipasinya. Tapi tingkat pendidikan menengah atas ini, SMA, MA, SMK, ini masih tertinggal karena baru 85,4% saja,” kata dia.
Baca Juga
Soal Spin Off, Empat Objek Ini Jadi Fokus Due Diligence UUS BTN
Dia berharap pemerintah akan meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat di pendidikan menengah ini pada 2029 atau 2034. “Itu pelan-pelan akan menggeser populasinya makin banyak di pendidikan menengah, dan makin meningkat di pendidikan tinggi yang kita harapkan 20%” ujar dia.
Dalam beberapa kesempatan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan untuk mengejar kesiapan industri Indonesia perlu menyiapkan modal sosial dan ekonomi untuk masyarakat. Dia mengatakan masyarakat perlu dibekali pengetahuan dan teknologi dan entrepreneur perlu menjadi maker.
“Kalau kita lihat entrepreneur kita, itu dagang. Trader, mereka. Nggak ada yang maker gitu,” kata dia.
Dengan munculnya maker, para entrepreneur akan masuk jaring laba-laba dengan kompleksitas produk yang tinggi. “Kalau kita banyak kompleksitas (produk) seperti itu, dengan sendirinya lapangan kerja terbentuk. Akhirnya, orang-orang cerdas ikut serta,” ucap dia.
Suharso tidak ingin, Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah terhambat dalam pemerataan kesejahteraan dan kurangnya lapangan kerja. Dia berharap, sumber daya alam seperti nikel dapat dikembangkan menjadi produk yang bernilai tambah.
“Kalau di sini kita bisa bikin material pesawat terbang yang diolah bersama kevlar, misalnya, itu beda value added-nya,” kata dia.
