Ahok Buka Suara Potensi Koalisi dengan Anies hingga FPI
JAKARTA, investortrust.id - Bergabungnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke dalam barisan pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar-Mahfud cukup menyedot perhatian publik.
Pasalnya, dilansir dari berbagai survei, Ganjar-Mahfud berpotensi untuk membuka koalisi dengan pasangan capres-cawapres nomor urut 1 Anies-Muhaimin untuk menghadapi pasangan capres-cawapresnomor urut 2 Prabowo-Gibran yang, menurut sejumlah survei, hampir pasti melaju ke putaran kedua.
Hal tersebut sekaligus membuka potensi Ahok yang berada di barisan pendukung Ganjar-Mahfud akan 'satu gerbong' bersama dengan rival politiknya di Pilkada DKI 2017 lalu yakni Anies Baswedan dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Menanggapi hal tersebut, Ahok mengaku keputusan koalisi berada di tangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Baca Juga
"Kalau itu (koalisi) keputusan partai, lihat nanti," ucap Ahok saat sesi doorstop seusai menghadiri 'Ahok is Back' di Jakarta, Kamis (08/02/2024).
Selain itu, ia juga menyebut TPN Ganjar-Mahfud masih fokus untuk menghadapi hari pemungutan suara pada 14 Februari 2024 mendatang.
Pada Desember 2016 lalu Ahok didemo besar-besaran oleh gerakan massa yang salah satu inisiatornya adalah ormas Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Rizieq Shihab.
Terkait sikap PDI Perjuangan terhadap FPI, Ahok memberikan contoh yang telah dilakukan Ganjar Pranowo ketika menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Baca Juga
"Masih ingat tidak ketika Pak Gamawan Fauzi mengatakan semua Kepala Daerah mesti berkonsiliasi dengan FPI dengan Rizieq? Seorang Pak Ganjar di Jawa Tengah, dia melawan, Gamawan Fauzi dia tolak," sebut Ahok.
Ahok juga menceritakan, Ganjar sebagai Gubernur dan petugas partai menolak untuk tidak mengindahkan perintah Mendagri Gamawan Fauzi saat itu.
"Pernah tidak Pak Ganjar datang ke sana cium-cium tangan Pak Rizieq? Itu perintah Mendagri loh, ditolak oleh seorang Ganjar," terang Ahok.
Lebih lanjut, Ahok tegas menyebut PDI Perjuangan tidak akan berkompromi terhadap kelompok yang berupaya mengganggu keutuhan NKRI dan Pancasila.
"Kenapa? Karena kami terlatih sebagai kader yang nasionalis, tidak mungkin bekerja sama dengan siapapun yang mau mengganti ideologi Pancasila," tegas Ahok.
