5G Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga, Network Sharing Bisa Jadi Solusi
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Internet of Things Indonesia (Asioti), Teguh Prasetya tidak memungkiri bahwa saat ini jaringan 5G Indonesia tertinggal dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Menurutnya, faktor utama dari ketertinggalan ini karena Indonesia belum punya spektrum frekuensi yang memadai.
“Karena lama spektrumnya. Spektrum ini yang gak beres-beres. Kita punya ASO (Analog Switch-Off) yang 700 MHz itu baru selesai. Baru banget selesai. Kalau negara lain, televisinya sudah digital semua. Sementara kita baru banget selesai tv analog,” jelas Teguh Prasetya di Alila Hotel, Jakarta, Kamis (9/11/2023).
Untuk mengejar ketertinggalan ini, Teguh Prasetya melalui Asioti mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan spektrum frekuensi tersebut. Salah satunya adalah dengan membuat regulasi agar operator-operator seluler di Indonesia melakukan network sharing.
Baca Juga
Keterbatasan Spektrum Frekuensi Jadi Kendala Implementasi 5G di Indonesia
“Dibuat regulasi untuk network sharing. Jadi supaya gak bikin (spektrum frekuensi) satu-satu, bikinnya barengan. Ini juga kita imbau supaya teman-teman operator juga sadar kita (Indonesia) sudah telat nih, makanya yuk bikinnya ramai-ramai,” ujar Teguh Prasetya.
Teguh menjelaskan bahwa saat ini eksisting penggunaan frekuensi spektrum yang dipunyai operator-operator di Indonesia sudah penuh untuk dipakai 4G dan hal lainnya. Jadi mereka tidak punya ruang lagi untuk 5G.
Maka dari itu, Teguh menyarankan kepada para operator untuk menerapkan dual stack system. Dengan demikian, penggunaan jaringan 5G bisa berjalan berbarengan dengan 4G.
Baca Juga
Program ASO Tuntas, Pemerintah Kini Dorong Pemanfaatan Teknologi 5G
“Untuk daerah-daerah yang padat ya saran saya pakai dual on saja atau dual stack istilahnya,” sebut Teguh Prasetya.
Kendati begitu, Teguh menyampaikan bahwa ternyata penerapan dual stack juga memiliki masalah sendiri sehingga belum bisa diterapkan menyeluruh. Penyebabnya disebutnya macam-macam.
“Itu mungkin nanti bisa diomongin ke teman-teman operator. Ada yang keterbatasan strategi internal mereka. Ada yang karena memang keterbatasan hardware internal mereka belum upgrade. Jadi sangat bergantung ke masing-masing operator,” ungkapnya. (CR-8)
