Kasih yang Agung: Dari Salib Mengalir Kehidupan
Poin Penting
|
“Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13)
Oleh: Primus Dorimulu
CEO Investortrust.id
JAKARTA, Investortrust.id — Hari ini, Jumat Agung, umat Kristiani di seluruh dunia mengenangkan peristiwa paling sunyi sekaligus paling agung dalam sejarah iman: wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Sebuah peristiwa yang bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan puncak pewahyuan tentang kasih yang melampaui batas-batas logika manusia.
Di bukit Golgota, Ia yang tidak berdosa disiksa, ditelanjangi, dipermalukan, dan dipaksa memanggul salib-Nya. Ia memiliki kuasa untuk menghindari semua penderitaan itu. Namun, Ia memilih untuk tetap berjalan, bukan karena keterpaksaan, melainkan karena kasih.
Dalam doa-Nya di taman Getsemani, Yesus mengungkapkan pergulatan terdalam manusiawi-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Di sinilah kasih mencapai bentuknya yang paling murni: ketaatan total kepada kehendak Allah demi keselamatan manusia.
Secara teologis, Jumat Agung adalah misteri penebusan ketika Kristus menjadi kurban yang memperdamaikan manusia dengan Allah. Seperti ditegaskan dalam Kitab Yesaya, “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita” (Yesaya 53:5). Salib bukan kekalahan, melainkan jalan keselamatan.
Kasih-Nya adalah kasih yang agung karena seluruhnya diberikan dengan keikhlasan. Ia tidak menahan apa pun. Ia memberikan firman-Nya, teladan hidup-Nya, bahkan nyawa-Nya tanpa pamrih. Inilah kasih yang tidak bersyarat, kasih yang memberi tanpa menghitung.
Lebih jauh, dalam terang iman Kristiani, kasih bukan sekadar nilai moral, tetapi hakikat Allah sendiri. “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Karena itu, setiap tindakan kasih sejati selalu memiliki dimensi ilahi—ia menghubungkan manusia dengan sumber kehidupannya.
Dari perspektif psikologis, kasih yang memberi diri seperti ini memiliki daya transformasi yang mendalam. Para ahli psikologi perkembangan, seperti Erich Fromm menyebut kasih sejati sebagai tindakan aktif: memberi, merawat, dan bertanggung jawab. Kasih bukan sekadar emosi, tetapi keputusan sadar untuk keluar dari diri dan hadir bagi orang lain. Dalam konteks salib, Yesus menunjukkan puncak dari kasih yang matang: pengorbanan diri demi kehidupan orang lain.
Secara sosiologis, pesan Jumat Agung juga menjadi fondasi bagi kehidupan bersama. Masyarakat yang dibangun di atas kasih akan melahirkan solidaritas, pengampunan, dan keadilan. Tanpa kasih, relasi manusia mudah jatuh pada konflik, egoisme, dan kekerasan. Karena itu, perintah Yesus tetap relevan lintas zaman: “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).
Kasih itu memberi.
Kasih itu mengampuni.
Kasih itu sabar.
Kasih itu murah hati.
Kasih itu lemah lembut.
Di kayu salib, semua definisi itu menjadi nyata. Bahkan dalam penderitaan-Nya, Yesus masih berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Inilah kasih yang melampaui luka, kasih yang tetap mengampuni ketika disakiti.
Jumat Agung bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi undangan untuk mencintai dengan cara yang sama: rela berkorban, setia dalam penderitaan, dan tetap mengampuni.
Karena pada akhirnya, kasih yang agung bukan hanya milik Kristus, tetapi panggilan bagi setiap manusia.
Selamat memperingati Jumat Agung.

