Maruarar Sirait: Iman dan Ajaran Kasih Tuhan Yesus Jadi Dasar Solidaritas Palestina di Natal Nasional 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Panitia Nasional Natal 2025, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa keputusan panitia menyisihkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina berangkat dari keimanan dan ajaran kasih Tuhan Yesus. Di tengah tekanan dan penderitaan yang masih dialami rakyat Palestina akibat konflik berkepanjangan, Panitia Natal Nasional 2025 memilih untuk mengambil sikap kemanusiaan yang inklusif dan penuh empati.
“Saya sampaikan dengan keyakinan, dengan iman saya, dan Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama manusia. Bagi kami, ini adalah soal kemanusiaan,” ujar Maruarar dalam kesempatan podcast di Nusantara TV, Jumat (2/1/2026).
Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut diberikan dengan niat tulus, tanpa mengesampingkan kepedulian terhadap masyarakat di dalam negeri. Bahkan, Panitia Natal Nasional 2025 juga telah mengundang Duta Besar Palestina untuk hadir dalam Perayaan Natal Nasional 2025 sebagai simbol solidaritas dan persaudaraan lintas bangsa. “Kami dengan ikhlas ingin menunjukkan solidaritas kita untuk kemanusiaan di Palestina. Sikap iman saya kokoh untuk itu,” tambahnya.
Maruarar juga menekankan bahwa langkah tersebut tetap menghormati adanya pandangan yang berbeda di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan sikap tidak seharusnya menghalangi niat baik untuk menolong sesama manusia. Di saat yang sama, panitia memastikan bahwa perhatian utama tetap diberikan kepada masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang berada di wilayah tertinggal, terdampak bencana, dan mengalami keterbatasan sosial ekonomi.
Natal Nasional 2025 sendiri dilaksanakan dengan semangat gotong royong yang kuat. Untuk pertama kalinya, seluruh pendanaan kegiatan tidak menggunakan anggaran APBN maupun bantuan dari BUMN. Dana yang digunakan sepenuhnya berasal dari kontribusi sukarela jaringan dan komunitas masyarakat. Hingga rapat terakhir pada 30 Desember 2025, total dana gotong royong yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp72 miliar.
Baca Juga
Natal Nasional 2025: Sederhana dalam Skala, Besar dalam Dampak
Dari jumlah tersebut, lebih dari 70% atau sekitar Rp50 miliar dialokasikan untuk kegiatan bantuan sosial, sementara sisanya digunakan untuk penyelenggaraan perayaan Natal. Bahkan, masih terdapat saldo lebih dari Rp6 miliar sebagai hasil pengelolaan yang transparan dan akuntabel.
Semangat persatuan lintas agama menjadi salah satu kekuatan utama Natal Nasional 2025. Maruarar mengungkapkan bahwa lebih dari Rp10 miliar bantuan datang dari saudara-saudara umat Islam, sementara sekitar Rp5 miliar ditambah 20 ribu paket sembako berasal dari umat Buddha. Bantuan tersebut disampaikan sebagai wujud kepedulian dan cinta kasih antarumat beragama. Menurut Maruarar, inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya, di mana perbedaan suku, agama, dan etnis justru melahirkan aksi nyata untuk kemanusiaan.
Dana gotong royong tersebut disalurkan dalam berbagai bentuk bantuan konkret. Panitia menyalurkan bantuan pendidikan sebesar Rp10 miliar untuk seribu penerima, masing-masing memperoleh Rp10 juta. Bantuan ini tersebar di sepuluh titik wilayah, meliputi Papua, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Tanah Toraja, NTT, Mentawai, Nias, dan Tapanuli. Selain itu, panitia juga menyediakan ambulans, seribu kursi roda, merenovasi seratus gereja, serta menyalurkan puluhan ribu paket sembako dan Alkitab. Bantuan juga difokuskan pada gereja-gereja dan masyarakat di daerah bencana yang membutuhkan perhatian khusus.
Di luar bantuan fisik, Natal Nasional 2025 juga mengusung pesan sosial yang kuat melalui tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Kampanye ini dilaksanakan di sembilan titik melalui diskusi dengan kampus dan berbagai organisasi, melibatkan organisasi kepemudaan seperti GMKI dan PMKRI. Diskusi tersebut membahas persoalan nyata yang dihadapi keluarga Indonesia, mulai dari narkoba, judi online, pinjaman online ilegal, hingga tantangan masa depan generasi muda. Menurut Maruarar, keluarga adalah institusi paling dasar dalam kehidupan berbangsa dan menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Baca Juga
Seminar Natal Nasional 2025, Membangun Keluarga Kristen di Tengah Lingkungan Metropolitan
Dalam menjalankan seluruh rangkaian Natal Nasional 2025, Maruarar menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan kerendahan hati, keterbukaan, dan kesediaan untuk mendengar. Ia mengakui bahwa dinamika dan perbedaan pandangan tidak terhindarkan, baik di internal panitia maupun antararas gereja. Namun, melalui dialog, doa, dan saling menghargai, seluruh perbedaan tersebut dapat diselesaikan. Dukungan tim doa yang secara rutin berdoa bersama menjadi kekuatan spiritual yang dirasakan langsung dalam proses penyelenggaraan Natal Nasional.
Maruarar menutup dengan menegaskan bahwa seluruh capaian ini bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kerja bersama, doa, dan kemurahan Tuhan. Ia berharap semangat gotong royong, persatuan lintas iman, serta keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan yang diwujudkan dalam Natal Nasional 2025 dapat menjadi teladan dan diteruskan pada penyelenggaraan Natal di tahun-tahun mendatang.

