Gak Punya Otak, Sejumlah Orang Menjarah Oven hingga Monitor dari Sekitar Kwitang
Poin Penting
●
Aksi penjarahan terjadi di Jl Kramat Kwitang saat demo buntut tewasnya driver ojol Affan Kurniawan.
●
Oknum massa kedapatan membawa monitor, oven, dispenser, hingga besi dan koper dari gedung sekitar.
●
Situasi sempat mereda namun kericuhan kembali pecah, aparat sempat menembakkan gas air mata.
JAKARTA, Investortrust.id - Di tengah aksi protes massa dan para pengemudi ojek online buntut kematian seorang driver Gojek bernama Affan Kurniawan, sejumlah oknum masyarakat justru memanfaatkan lemahnya pengawasan dan penjagaan dengan berbuat kriminal. Sejumlah oknum warga terlihat mencuri dan menjarah perangkat peralatan kantor dari sejumlah gedung kantor di seberang Mako Brimob, di ruas Jl Kwitang Raya, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025).
Penjarahan terjadi di Jalan Kramat Kwitang, Jakarta, sejak Jumat (29/8/2025) sore. Berdasarkan pantauan Investortrust.id, beberapa orang tampak membawa monitor komputer, oven, hingga dispenser.
Beberapa orang juga terlihat membawa potongan besi panjang, galon, hingga koper.
Aksi kriminal menjarah dilakukan sejumlah oknum masyarakat di kawasan Jl Kwitang Raya di tengah aksi protes atas tewasnya driver Gojek di depan Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Foto: Investortrust/Febrianto Adi Saputro
Belum dapat dipastikan dari mana massa menjarah barang-barang tersebut. Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.30 WIB.
Massa membawa barang-barang tersebut ke arah Jalan Letjen Soeprapto. Ojol dan warga yang menyaksikan terlihat menyoraki aksi orang-orang yang nekat menjarah barang-barang tersebut.
Sementara itu kepulan asap hitam terlihat dari seberang Mako Brimob Kwitang. Aparat juga masih menembakan gas air mata ke arah warga dan ojol.
Hingga pukul 18.00 WIB warga dan ojol masih terus memadati sekitaran Fly Over Senen.
Aksi kriminal menjarah dilakukan sejumlah oknum masyarakat di kawasan Jl Kwitang Raya di tengah aksi protes atas tewasnya driver Gojek di depan Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Foto: Investortrust/Febrianto Adi Saputro
Suasana di sekitar Fly Over Senen sempat mereda. Anggota TNI berbaret ungu mengimbau masyarakat untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun tidak lama kemudian kericuhan kembali pecah.
Sekadar informasi, aksi massa dan demonstrasi dari kalangan buruh dan masyarakat serta mahasiswa yang turun ke jalan di depan Gedung DPR RI sejak Kamis (28/8/2025) mengajukan setidaknya 11 tuntutan. pertama menghapus sistem outsourcing dan menolak upah murah, permintaan membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan PHK, dilakukannya reformasi pajak perburuhan yang berkeadilan, termasuk penghapusan pajak pesangon, THR, dan JHT, lalu pengesahan RUU Ketenagakerjaan tanpa skema omnibus law.
Aksi massa juga menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset untuk memberantas korupsi. revisi atas UU Pemilu demi sistem demokrasi yang lebih aspiratif dan terbuka, pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), penegakkan standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di sektor pertambangan, dan penerapan sistem pengupahan adil bagi pekerja perkebunan sawit.
Tuntutan aksi massa juga mencakup ratifikasi Konvensi ILO-190 tentang penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, hingga mendesak pemotongan gaji anggota DPR sebesar 20–30 persen sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat serta solusi defisit anggaran negara.