8,2 Juta Orang Sudah Cek Kesehatan Gratis, 4 Penyakit Ini Paling Banyak Terdeteksi
JAKARTA, investortrust.id - Sebanyak 8,2 juta orang sudah melakukan cek kesehatan gratis (CKG) hingga saat ini. Salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu ditargetkan dapat menjangkau 280 juta penduduk dalam lima tahun.
Dari pemeriksaan yang dilakukan di 9.552 puskesmas di 38 provinsi terungkap tiga masalah kesehatan utama, yakni hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan kesehatan gigi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan satu dari lima peserta mengalami hipertensi, sebanyak 5,9% menderita diabetes, dan setengah peserta CKG mengalami masalah gigi dan mulut. Obesitas sentral juga mendapat perhatian khusus, dengan prevalensi 50% pada perempuan dan 25% pada laki-laki dari seluruh peserta CKG.
Baca Juga
7,8 Juta Warga Sudah Cek Kesehatan Gratis, Ini Penyakit Paling Banyak Terdeteksi
Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan hipertensi, diabetes, dan obesitas merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke, dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Namun, ketimpangan terlihat dalam partisipasi gender, yakni 62,2% peserta adalah perempuan, sedangkan laki-laki hanya 37,7%.
CKG menjadi salah satu program pemeriksaan kesehatan terbesar di dunia. Pada tahun pertama, program ini menargetkan 60 juta orang, dengan rencana anggaran sebesar Rp 4,7 triliun dari APBN 2025.
“Anggaran sebesar ini setara dengan pembangunan infrastruktur vital di negara maju. Di Swedia atau Finlandia, jumlah tersebut cukup untuk mendanai operasional transportasi publik kota selama satu tahun penuh,” kata Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) Prita Laura, Jumat (13/6/2025).
Dikatakan, pemerintah melalui program cek kesehatan gratis terus berkomitmen menjamin hak kesehatan seluruh rakyat. Program CKG merupakan implementasi nyata dari Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945.
Prita mengatakan, Indonesia menghadapi beban besar dari penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan gagal ginjal. Penyakit itu menyumbang lebih dari 500.000 kematian per tahun. Untuk itu, deteksi dini melalui CKG menjadi langkah penting mencegah kondisi kronis yang mahal dan sulit ditangani.
“CKG dirancang sebagai hadiah ulang tahun dari negara. Setiap warga berhak mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis yang nilainya bisa mencapai lebih dari Rp 1 juta jika dilakukan secara mandiri agar dapat mendeteksi dini risiko kesehatan yang dihadapinya,” ujar Prita.
Dalam perkembangannya, antusiasme masyarakat yang ingin memeriksakan kesehatan semakin tinggi. Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka program CKG bagi komunitas.
Organisasi kemasyarakatan, badan usaha milik negara, perusahaan swasta bahkan kelompok hobi pun sekarang sudah, sedang dan akan menikmati CKG secara bersama-sama.
“Kolaborasi nyata antara puluhan ribu puskesmas, ratusan dinas kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan Kabinet Merah Putih yang solid. Semua anggota kabinet terlibat aktif mempromosikan CKG,” ujar Prita.
Mulai Juli 2025, program CKG sekolah akan diluncurkan untuk menjangkau hingga 50 juta siswa di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah. Partisipasi tertinggi berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, yang menyumbang sekitar 60% total peserta. Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyatakan kunci keberhasilan provinsi itu dalam menarik partisipasi masyarakat mengikuti cek kesehatan gratis adalah sinergisitas dengan inovasi program daerah Speling atau dokter spesialis keliling. Diluncurkan pada 4 Maret 2025, program Speling fokus pada layanan kesehatan yang menghadirkan berbagai dokter spesialis, langsung ke desa-desa, terutama di wilayah miskin. Pemeriksaan dilakukan di balai desa, sehingga warga tidak perlu pergi jauh ke puskesmas atau rumah sakit.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Endang Sumiwi, menegaskan CKG bersifat adaptif dan disesuaikan dengan risiko individu. Semua peserta akan mendapatkan layanan dasar seperti cek tekanan darah, gula darah, mata, telinga, dan kesehatan jiwa.
“Biaya pengobatan penyakit-penyakit ini sangat besar, biaya kuratif, total beban penyakit tidak menular melebihi Rp 20 triliun per tahun setara dengan anggaran yang diperlukan untuk merenovasi 10.000 sekolah atau merevitalisasi lebih dari 60 rumah sakit umum daerah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T),” ujar Prita Laura.
Baca Juga
Program Cek Kesehatan Gratis Prabowo Jangkau Tapal Batas NKRI
Program CKG pun sejalan dengan praktik global yang ditemukan di negara-negara maju. Jepang, misalnya, mewajibkan pemeriksaan tahunan bagi pekerja. Sedangkan Inggris melalui program jaminan kesehatan national health service (NHS) menyediakan skrining gratis untuk usia 40–74 tahun.
Menurut WHO dan World Bank, biaya deteksi dini jauh lebih murah dibandingkan pengobatan penyakit kronis. CKG adalah investasi strategis nasional, menyelamatkan nyawa, menjaga produktivitas, dan mengurangi beban ekonomi keluarga dan negara.

