Delapan Guru Yahukimo Mengungsi ke Wamena Pasca Serangan KKB
JAYAWIJAYA, Investortrust.id - Sebanyak delapan orang guru dari Yahukimo dilaporkan untuk sementara mengungsi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, sejak Sabtu (22/3/2025). Mereka mengungsi menyusul kabar penyerangan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Delapan orang guru itu berasal dari Distrik Kurima dan Hitugi, yakni Femri Faofeto (Soe), Stefanus Taa (Nagekeo), Sonya Kresensia (Manggarai), Deviani (Sumba), Saktiar Situmorang (Batak), Ening Pakpahan (Batak), Feri Abindondifu (Biak), dan Agustinus jefrianus Kopon tokan (Adonara) .
Kapolres Jayawijaya Ajun Komisaris Besar Polisi Heri Wibowo ketika dikonfirmasi di Wamena, Minggu (23/3/2025), membenarkan adanya delapan orang guru dari Distrik Kurima dan Hitugi yang mengungsi ke Wamena sejak Sabtu. "Mereka sementara menginap di Hotel Rannu Jaya Satu dan mereka dalam kondisi yang baik," katanya seperti dikutip Antara.
Menurut Kapolres, jarak antara Distrik Kurima dan Hitugi dengan Distrik Anggruk, tempat kejadian pembunuhan tenaga guru dan tenaga kesehatan serta pembakaran gedung, sangat jauh.
Salah seorang guru yang mengungsi, Stefanus Taa menyampaikan dirinya bersama tiga rekan guru mengungsi dari Distrik Kurima setelah mendengar kabar penyerangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) terhadap rekannya di Distrik Anggruk.
Baca Juga
"Kami panik sehingga meminta izin sama kepala sekolah tempat mengajar dan langsung menggunakan mobil ke Wamena. Sampai di sini sekitar pukul 15.30 WIT dengan membayar Rp650.000," ujarnya.
Cerita yang sama juga disampaikan salah seorang guru dari Distrik Hitugi bernama Agustinus Jefrianus Kopon Tokan. "Dari Hitugi sampai di Wamena agak malam dan kendaraan digunakan kami bayar Rp250.000," katanya.
Stefanus Taa mengaku ingin segera turun ke Kota Jayapura, Papua, sambil menunggu informasi terkini kondisi di Kabupaten Yahukimo.
"Dari pihak Yayasan (Serafin) yang merekrut kami belum ada informasi apakah kita turun atau tidak. Tetapi kondisi seperti ini kayaknya harus mencari tempat aman untuk berlindung dulu," ujarnya.
Persoalan belum selesai bagi mereka. Begitu masa check out tiba pada pukul 12.00 hari ini, mereka harus segera meninggalkan hotel. Sayangnya mereka tidak memiliki dana cadangan untuk biaya menginap hari berikutnya karena belum menerima gaji sejak dua bulan terakhir. Kedelapan orang guru itu bertugas di dua sekolah dasar (SD) berbeda, yakni SD YPK Polimo Kurima dan SD Inpres Hitugi.

