Memaknai Esensi Imlek Era Digital di Petak Sembilan
JAKARTA, investortrust.id – Berselubung mendung langit Jakarta, ibadah dan perayaan Imlek di Vihara Dharma Bhakti, kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Rabu (29/1/2025), berlangsung khusyuk dan khidmat.
Sejak pagi hingga siang hari, warga keturunan Tionghoa tampak bergantian melakukan ibadah di vihara yang menjadi salah satu landmark Kota Jakarta itu. Ada yang bersama keluarga, ada pula yang datang sendiri. Banjir yang menerjang sejumlah lokasi di Jakarta tak mengurangi hasrat mereka untuk beribadah di hari spesial ini.
JW, misalnya, pria 33 tahun itu merayakan imlek seorang diri lantaran keluarga tercinta berada di Bangka Belitung. Toh hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk beribadah sejak pagi.
Baca Juga
Petak Sembilan Jadi Tujuan Wisatawan Lokal dan Mancanegara pada Perayaan Imlek
"Saya datang dari pagi, kan hujan dari semalam. Saya bangun pagi jam 7-an, emang niatnya dari awal mau datang ke sini," tutur JW saat ditemui investortrust.id di Vihara Dharma Bhakti.
Bagi JW, esensi Imlek sejatinya sama setiap tahunnya. Yang membedakan adalah suasana kumpul-kumpulnya. JW yang sudah tinggal di Jakarta hampir 15 tahun mengaku semakin sulit bertemu keluarga besarnya.
"Jadi, aku udah di Jakarta itu mau 15 tahun, hampir setiap perayaan Imlek justru aku nggak pulang, karena pas Imlek liburnya terbatas," kata dia.
Namun, JW tak kehabisan akal. Di era digital ini, kebersamaan bisa disiasati dengan kemajuan teknologi. Misalnya mengucapkan xin nian kuai le (selamat tahun baru) atau gong xi fa cai (semoga berbahagia dan berlimpah rezeki) bisa disampaikan lewat media sosial (medsos) atau email. Beda dengan perayaan Imlek zaman dulu.
“Kalau dulu, saat saya masih kecil, jam 6 pagi udah mandi, udah siap-siap bertamu ke tempat orang lain. Kalau sekarang sih, jujur, saya hampir nggak pernah bertamu ke tempat siapa pun, bahkan dengan keluarga sendiri yang dekat," papar dia.
Meski tak bertemu fisik, JW dan kerabatnya tetap menjalin tali silaturahmi. “Memang nggak saya samperin, nggak ketemu langsung. Paling-paling cuma lewat ucapan saja lewat HP. Karena era digital mungkin ya, yang penting nggak mengubah esensinya," tegas JW.
Walau melewati tradisi kumpul-kumpul keluarga, JW tetap menerapkan berbagai pantangan yang dilakukan saat Imlek, seperti pantang mencuci baju dan menyapu, hingga harus memotong rambut sebelum Imlek.
Baca Juga
“Itu tradisi yang tidak boleh dilupakan. Pantangan-pantang tetap saya patuhiwalaupun saya jauh (dari keluarga)," tambah dia.
Perihal harapan di tahun Ular Kayu, JW berharap ia diberikan kesehatan dan ekonomi yang semakin baik.
"Saya sih lebih memilih untuk percaya yang baik-baik aja. Jangan fokus sama yang kurang bagus, kayak 'Aduh, gue bakal nggak sehat!', 'Aduh, karier gue bakal jelek.' Jangan kayak begitu. Kalau mikirnya yang jelek-jelek mulu, nanti datangnya yang jelek juga," ujar JW.
Warga keturunan Tionghoa lainnya, Meri (42), mengaku rutin beribadah di Vihara Dharma Bhakti setiap tahun. "Di sini rutin (sembahyang), habis ini biasanya kumpul-kumpul keluarga dan makan bersama," kata ibu dua anak tersebut. (C-13)

