BNPB: Banjir Lahar dan Tanah Longsor jadi Bencana Paling Banyak Makan Korban Selama 2024
JAKARTA, Investortrust.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan banjir lahar dan tanah longsor jadi bencana yang paling banyak memakan korban selama tahun 2024. Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers 'Kaleidoskop Bencana 2024 & Outlook Potensi Bencana 2025', Selasa (7/1/2025).
"Untuk jenis bencana yang paling signifikan dalam mengakibatkan fatalitas meninggal dunia itu ada dua, banjir lahar dan kemudian rekapitulasi dari tanah longsor di beberapa lokasi kejadian," kata Abdul, Selasa (7/1/2024).
Diketahui peristiwa tanah longsor terjadi di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan pada April 2024. Kejadian tersebut menyebabkan 20 jiwa meninggal dunia, 2 orang luka, 74 mengungsi, dan 7 rumah rusak berat. Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo pada Minggu 7 April 2024. Kejadian tersebut menyebabkan 27 jiwa meninggal dunia, 15 jiwa hilang, 8 jiwa terluka, dan 325 jiwa menderita.
Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 27 September 2024. Peristiwa tersebut menerjang 1 kecamatan dan menyebabkan 13 jiwa meninggal dunia, dan 12 jiwa terluka.
Sementara itu banjir bandang lahar dingin terjadi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Mei 2024. Total sebanyak 56 jiwa meninggal dunia, 10 orang hilang, 55 jiwa terluka, 3.703 jiwa menderita, 7.199 mengungsi, dan sebanyak 452 rumah rusak.
"Untuk satu jenis bencana yang paling banyak memakan korban di tahun 2024 adalah banjir lahar di Marapi. Ini jadi atensi kita karena hingga saat ini kita belum memiliki sistem peringatan dini yang dedicated untuk banjir lahar seperti kondisi yang sangat masif di Sumatera Barat 2024," ucapnya.
Untuk mengurangi potensi bencana serupa di masa depan, Abdul mengatakan BNPB telah menyiapkan sistem yang bisa menginformasikan terkait potensi terjadinya banjir lahar. Abdul mengungkapkan sistem tersebut kini sudah diterapkan di 6 sungai dari 26 sungai yang ada di Gunung Marapi, Sumatera Barat. (C-14)

