Ridwan Kamil Serukan Masyarakat Gunakan Hak Pilih di Pilkada 2024 untuk Perkokoh Demokrasi
JAKARTA, investortrust.id - Cagub Jakarta nomor urut 1, Ridwan Kamil menyerukan seluruh masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan bijak di Pilkada 2024. DIkatakan Ridwan Kamil, partisipasi masyarakat merupakan upaya membangun demokrasi di Indonesia.
Bertolak dari Jakarta pagi hari, Ridwan Kamil menggunakan hak pilihnya di TPS wilayah Ciumbuleuit, Bandung, sesuai dengan alamat domisili.
"Memang kami kondisinya tidak punya domisili di Jakarta, tetapi itu tidak mengurangi komitmen kami untuk membangun Jakarta. Kami tadi pagi mengunjungi Ketua Umum Golkar Pak Bahlil dan menyaksikan proses pencoblosan yang tertib dan lancar di TPS beliau, setelah itu baru kami berangkat ke Bandung untuk mencoblos," ujar Ridwan Kamil, Rabu (27/11/2024).
Baca Juga
Setelah menggunakan hak pilihnya di Bandung, Ridwan Kamil bakal segera kembali ke Jakarta. Ridwan Kamil berharap masyarakat menggunakan hak pilihnya secara bijak dengan memilih pemimpin yang memiliki rekam jejak dan kerja nyata.
"Setelah ini kami kembali lagi ke Jakarta, karena ini komitmen kami sebagai pemimpin untuk membersamai warga yang akan dipimpin. Kami berharap tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi. Bisa punya suara untuk memilih calon pemimpin merupakan hadiah demokrasi, mari kita jaga. Semoga warga bisa memilih dengan bijak, memilih yang punya rekam jejak dan kerja nyata," katanya.
Ridwan Kamil diketahui meyambangi rumah Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia di daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan, sekitar pukul 08.00 WIB. Dalam kesempatan tersebut, Bahlil mengajak para pemilih untuk bijaksana dan tidak mudah terkena hasutan dari pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Ridwan Kamil.
Baca Juga
"Pak RK memilih di Jawa Barat karena sesuai domisilinya, dan aturan KPU seperti itu. Ingat, dulu Pak Jokowi saat Pilgub 2012 juga tidak memilih di Jakarta karena domisili beliau di Solo. Ya Insyaallah jejak Pak Jokowi bisa diikuti Pak RK," ujar Bahlil.
"Kalau Pak RK sudah mengikuti aturan yang ada, kemudian ada yang mempermasalahkan, mungkin intelektualitasnya harus dibarengi dengan cara berpikir yang bijak," kata Bahlil.

