Menteri Kependudukan Wihaji Ungkap Pentingnya Maksimalkan Potensi Bonus Demografi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menerima kunjungan resmi dari Kepala Perwakilan United Nations Population Fund (UNFPA) di Indonesia, Hassan Mohtashami.
Dalam kunjungan tersebut, Hassan Mohtashami mengungkapkan adanya salah satu tantangan yang dihadapi oleh Indonesia yaitu tren penurunan angka kelahiran di Indonesia. Kendati demikian, tren penurunan tersebut masih terhitung stabil apabila dibandingkan negara seperti Jepang, Korea Selatan dan Eropa yang mengalami penurunan drastis.
"Angka kelahiran di seluruh dunia menurun, kecuali di beberapa negara seperti Afrika. Populasi di negara-negara besar seperti Tiongkok sudah mulai mengalami penurunan, dan kita akan melihat dampaknya di Indonesia dalam beberapa dekade ke depan," kata Dr. Hassan dalam kunjungannya ke kantor BKKBN, Jakarta, Kamis (24/10/2024).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki waktu sekitar 20 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi, yaitu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif lebih besar daripada penduduk usia non-produktif.
Baca Juga
Jamdatun Dukung Komitmen Bank Melindungi Data Pribadi Nasabah
"Ini adalah kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk terus memaksimalkan potensi bonus demografi sebelum angka kelahiran mulai menurun," imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, juga sepakat bahwa Indonesia harus segera memanfaatkan peluang ini.
"Kita perlu mempersiapkan strategi jangka panjang untuk menghadapi penurunan angka kelahiran yang mungkin akan terjadi sekitar tahun 2040. Dalam 20 tahun ke depan, kita masih memiliki kesempatan untuk memanfaatkan bonus demografi ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutur Wihaji.
Hassan Mohtashami, yang datang bersama Guru Besar Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof. Budi Setiyono, menyampaikan komitmen UNFPA untuk terus mendukung program-program Kementerian KPK/BKKBN. Dalam pertemuan tersebut, Hassan Mohtashami menegaskan pentingnya kerja sama antara pemerintah, lembaga internasional, dan institusi pendidikan tinggi dalam menghadapi dinamika kependudukan di Indonesia.
Dengan dukungan dari UNFPA dan peran universitas, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan bonus demografi dan menghadapi penurunan angka kelahiran dengan kebijakan yang tepat.
Hassan juga menyampaikan bahwa UNFPA akan terus memberikan dukungan penuh kepada BKKBN dalam upaya menurunkan angka stunting dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi di Indonesia.
Baca Juga
Laba BNI Capai Rp 16,3 Triliun, Naik 3,5% di Kuartal III 2024
Keterlibatan universitas dalam penelitian dan pengembangan solusi bagi masalah kependudukan menjadi krusial, terutama dalam menjawab tantangan kesehatan reproduksi dan pembangunan keluarga yang semakin kompleks.
"Peran universitas sangat penting dalam menghasilkan riset dan inovasi yang dapat mendukung kebijakan pemerintah, terutama dalam bidang kependudukan dan kesehatan reproduksi. Kami siap untuk terus mendukung kolaborasi ini," tutur Guru Besar UNDIP Prof. Budi Setiyono.

