30 KRL Baru Era Prabowo Masih Abu-abu, KAI Ungkap Kendala Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rencana penambahan 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) atau trainset pada era Presiden Prabowo Subianto masih belum memiliki kepastian realisasi. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI masih mengkaji sejumlah skenario pengadaan, termasuk kebutuhan pembiayaan, kebijakan, hingga kapasitas produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan, penambahan kapasitas angkut KRL tidak hanya bergantung pada ketersediaan rangkaian kereta. Kesiapan infrastruktur, mulai dari listrik aliran atas (LAA), kebutuhan listrik, hingga stasiun juga perlu diperhatikan.
"Penambahan kapasitas angkut KRL, yang pertama yang harus diperbaiki adalah prasarana, LAA-nya. Kemudian kebutuhan listrik. Kemudian stasiun," kata Anne di kawasan Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Dia turut menjelaskan, KAI saat ini masih memprioritaskan penyelesaian pengadaan 16 trainset dari INKA. Selain itu, perusahaan juga tengah menentukan konsep konservasi kereta-kereta lama.
"Saat ini yang dilakukan KAI adalah memastikan dulu yang 16 trainset dari INKA ini selesai. Kemudian menentukan konsep konservasi kereta-kereta lama," ujar Anne.
Adapun terkait rencana pengadaan 30 trainset sesuai arahan Presiden Prabowo, Anne mengatakan, KAI telah melakukan kajian mengenai kebutuhan pembiayaan dan kebijakan terkait pengadaan kereta.
Menurutnya, INKA masih menjadi pilihan pertama dalam pengadaan rangkaian KRL tambahan. KAI akan terlebih dahulu melihat kapasitas produksi INKA sebelum mempertimbangkan alternatif lain, termasuk impor.
"Kita lihat dulu kapasitas INKA bisa sediakan berapa. Kalau misalkan pun nanti ada alternatif impor, itu pasti harus lewat INKA," jelas Anne.
Anne menambahkan, setiap rencana impor kereta, baik baru maupun bekas, harus dikoordinasikan dengan pemerintah dan mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan kementerian.
"Dan juga berkoordinasi terus dengan pemerintah. Karena yang namanya impor, mau itu kereta yang baru dan nggak baru, itu sudah diatur dengan peraturan kementerian," imbuh dia.
Terkait target realisasi penambahan rangkaian KRL, Anne belum menyampaikan jadwal pasti. KAI masih menunggu penyelesaian pengadaan 16 trainset dari INKA sekaligus mengkaji kebutuhan pembiayaan, strategi subsidi public service obligation (PSO), dan kebijakan pengadaan kereta.
"Itu yang tadi saya sampaikan. Kita menunggu dulu yang 16 kereta (trainset) tadi. Sekaligus mengkaji dan mengajukan. Karena kita kan butuh yang namanya finance juga. Strategi PSO-nya juga. Kemudian kebijakan tadi," terang dia.
Meski demikian, Anne menyebut KAI telah menyiapkan beberapa skenario untuk penambahan kapasitas angkut KRL.
"Tapi jangan khawatir. Kita sudah ada beberapa skenario. Tinggal nanti keputusannya yang mana, pasti kita kasih tahu sama teman-teman," katanya.
KAI Masih Tunggu 'Trainset' INKA
Sebelumnya, PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) mengungkapkan proses retrofit dua trainset KRL yang dikerjakan INKA masih berlangsung.
Direktur Utama KAI Commuter, M Purnomosidi mengatakan, terdapat sejumlah kendala dalam pengerjaan tersebut.
"Retrofit itu yang kita lakukan kan sekarang ada dua ya, dua trainset yang kita kerjakan dengan teman-teman INKA. Nah sekarang ini kami sebenarnya kami terus memantau update-nya itu, memang ada beberapa kendala teman-teman INKA," kata Purnomosidi saat ditemui di Commuter Hall Stasiun Juanda KAI Commuter, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Menurut Purnomosidi, KAI Commuter terus memantau perkembangan pengerjaan tersebut. Namun, dia menyerahkan penjelasan mengenai kendala penyelesaian dan pengiriman dua trainset itu secara rinci kepada INKA.
"Tapi yang jelas sampai sekarang masih terus berproses ya. Kenapa kok lama gitu mungkin ya, karena ya nanti detailnya teman-teman INKA lah yang bisa menjelaskan. Tapi sekarang ini masih terus berprogres," tandas dia.
KAI Commuter juga memastikan terdapat konsekuensi kontraktual apabila target pengerjaan yang telah disepakati tidak terpenuhi.
"Komplain pasti, denda pasti, penalti pastilah kan gitu ya. Karena kan kita jaga governance-nya ya. Ada kontrak berarti kalau ada yang nggak dipenuhi ya penaltinya pasti kita akan lakukan," tegas Purnomosidi.
Selain dua trainset yang menjalani retrofit, KAI Commuter juga masih menunggu kedatangan sembilan trainset baru dari INKA.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda sebelumnya menargetkan penyelesaian retrofit dua rangkaian KRL secara bertahap hingga 2027. Satu trainset ditargetkan selesai pada 2026 dan satu lainnya pada 2027.
"Kalau untuk retrofit kan memang kita ada dua trainset. Dua trainset ini ditargetkan satu trainset selesai di tahun 2026, satu trainset lagi di 2027," ungkap Karina saat ditemui di Stasiun BNI City, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Dia menyebut rangkaian hasil retrofit akan kembali memiliki formasi 12 kereta atau stamformasi 12 (SF12). Pengoperasiannya akan menyesuaikan dengan kesiapan infrastruktur lintas pelayanan.
Menurut Karina, lintas yang berpotensi mengakomodasi pengoperasian dua trainset tersebut antara lain Bogor Line dan Cikarang Line. Namun, rangkaian juga dapat dioperasikan di lintas lain setelah kesiapan infrastruktur terpenuhi.
Sebagai informasi, INKA tengah mengerjakan retrofit dua rangkaian KRL untuk memenuhi kontrak kerja sama dengan KAI. Dua trainset tersebut nantinya memiliki 12 kereta dengan peningkatan usia pakai hingga 10 tahun, penggantian komponen penggerak, serta pembaruan interior dan pendingin udara (AC).
Adapun rencana pengadaan 30 trainset senilai Rp 5 triliun sebelumnya disampaikan saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru pada November 2025.
