Indonesia Buka Kerja Sama dengan Malaysia Atasi Karhutla Lintas Batas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama teknis dengan Malaysia untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas batas (transboundary haze) di kawasan Asia Tenggara.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan Indonesia dan sejumlah negara tetangga sebenarnya telah memiliki kerangka kerja sama untuk menangani polusi asap lintas batas. Kerja sama tersebut melibatkan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand dalam skema subregional.
“Sudah saling pengertian dari awal sudah dibuat. Subregional namanya. Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Transboundary Haze Pollution Agreement atau understanding,” kata Jumhur saat ditemui di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, komitmen kerja sama tersebut selama ini masih bersifat umum dan belum masuk secara mendalam ke aspek teknis. Pemerintah kini mendorong pembahasan lebih lanjut, terutama terkait langkah mitigasi bersama untuk menangani karhutla.
Baca Juga
Mensesneg Jelaskan Alasan Menhut Raja Juli Tak Ikut Rapat Karhutla dengan Prabowo
“Langkah ke depannya besok akan pada tindakan mitigasi. Kemarin tidak sampai tindakan mitigasi, kerja sama mitigasinya masih belum. Jadi cuma saling melaporkan saja. Indonesia melakukan ini, Malaysia melakukan itu, dan begitu,” ujarnya.
Terkait kemungkinan Malaysia membantu pemadaman api di wilayah Kalimantan, Jumhur membuka peluang tersebut selama tawaran itu positif dan dapat membantu penanganan karhutla. Menurut dia, sejumlah perusahaan Malaysia dan Singapura juga memiliki kegiatan usaha perkebunan sawit maupun hutan tanaman industri (HTI) di Indonesia.
“Ya, kalau ternyata dia menawarkan dan itu baik ya boleh-boleh saja (ikut memadamkan api). Kan banyak perusahaan Malaysia juga, perusahaan Singapura, perusahaan mana-mana yang megang sawit, megang HTI di Indonesia. Jadi boleh-boleh saja,” sebut Jumhur.
Kabut asap akibat karhutla di Kalimantan kembali menjadi perhatian negara tetangga setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia menurun. Paparan partikel berbahaya, seperti PM2,5 yang terbawa angin musim barat daya berpotensi meningkatkan risiko ISPA, iritasi mata, serta gangguan kesehatan bagi kelompok rentan.
Dampak kabut asap juga meluas ke sektor pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi. Sejumlah sekolah di wilayah terdampak Malaysia dilaporkan harus ditutup sementara, sementara penurunan jarak pandang dapat mengganggu penerbangan dan aktivitas transportasi lainnya.
Baca Juga
Prabowo Harap Karhutla Sumatra-Kalimantan Tuntas dalam 1-2 Pekan
Di tengah kondisi tersebut, Malaysia dan Brunei Darussalam juga sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk menangani persoalan transboundary haze.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan isu tersebut dibahas bersama Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah dalam Pertemuan Konsultasi Tahunan Pemimpin ke-27 di Brunei Darussalam.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya perusahaan atau pihak yang akan dikenakan tindakan hukum terkait karhutla, Jumhur mengatakan pemerintah masih melakukan pemeriksaan. “Lagi dicek. Lagi dicek,” tegasnya.
