Geothermal di Flores: Antara Ketakutan, Fakta Ilmiah, dan Jalan Menuju Kesejahteraan
Oleh: Primus Dorimulu
JAKARTA, Investortrust.id – Perdebatan mengenai geothermal di Flores kembali menghangat setelah gempa besar pada 15 Agustus 2026. Dua tulisan yang muncul sesudahnya menarik karena berangkat dari sudut pandang berbeda. Dr. Ing. Ignasius Iryanto Djou melihat persoalan terutama dari aspek ilmu kebumian, teknologi, energi, dan kebutuhan pembangunan. Sementara Pater Dr Felix Baghi, dalam tanggapannya terhadap tulisan Iryanto, membawa perdebatan ke wilayah filsafat: tentang batas pengetahuan ilmiah, prinsip kehati-hatian, keadilan, suara masyarakat, serta siapa yang menikmati manfaat dan siapa yang menanggung risiko pembangunan.
Keduanya menyumbangkan perspektif penting. Iryanto benar ketika meminta agar fakta geofisika tidak dikalahkan oleh ketakutan dan spekulasi. Felix juga benar ketika mengingatkan bahwa kebenaran teknis tidak dengan sendirinya menjawab seluruh persoalan kebijakan publik. Masalah energi memang tidak cukup dibahas hanya dengan geologi, tetapi juga tidak bisa diputuskan hanya berdasarkan kecemasan sosial atau pertimbangan filosofis.
Karena persoalan ini menyangkut masa depan Flores, diskusi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang paling benar. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sesungguhnya dikatakan ilmu pengetahuan mengenai hubungan geothermal dan gempa, seberapa besar risikonya, sejauh mana risiko itu dapat dimitigasi, berapa biaya yang harus ditanggung jika Flores menolak geothermal, serta bagaimana sumber daya energi dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengorbankan lingkungan dan martabat manusia.
Fakta Ilmiahnya Harus Menjadi Titik Awal
Dalam kasus gempa Flores 15 Agustus 2026, titik awal perdebatan seharusnya cukup jelas. Berdasarkan penjelasan otoritas kebencanaan dan analisis seismologi, gempa tersebut merupakan gempa tektonik yang bersumber dari aktivitas struktur tektonik kawasan Flores, bukan gempa vulkanik akibat letusan gunung api dan sejauh ini tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa gempa tersebut dipicu proyek geothermal.
Fakta ini penting karena menentukan beban pembuktian. Jika seseorang menyatakan proyek geothermal di Flores menyebabkan gempa besar tersebut, ia harus mampu menunjukkan proyek mana yang menjadi pemicu, sumur mana yang terkait, bagaimana tekanan atau injeksi fluida memengaruhi sistem patahan, bagaimana hubungan spasial dan temporalnya, serta bagaimana mekanisme fisiknya dapat menjelaskan gempa yang terjadi.
Tanpa bukti semacam itu, keberadaan proyek geothermal dan terjadinya gempa di wilayah yang sama hanya menunjukkan kedekatan geografis. Kedekatan bukanlah hubungan sebab-akibat.
Dalam konteks ini, argumentasi Iryanto mempunyai landasan ilmiah yang kuat. Namun kritik Felix juga perlu diperhatikan: membuktikan bahwa gempa 15 Agustus bukan disebabkan geothermal tidak sama dengan membuktikan bahwa semua proyek geothermal di Flores pasti aman. Dua kesimpulan itu harus dipisahkan secara tegas.
Geothermal Memang Bisa Memicu Gempa
Perdebatan akan menjadi lebih jernih jika kedua ekstrem dihindari. Tidak tepat mengatakan geothermal tidak pernah menyebabkan gempa. Tetapi sama tidak tepatnya menyimpulkan bahwa karena geothermal pernah menyebabkan gempa di suatu tempat, maka geothermal di Flores pasti akan menghasilkan kejadian serupa.
Dalam ilmu kebumian dikenal istilah induced seismicity, yakni aktivitas gempa yang dipicu perubahan tekanan, tegangan, atau kondisi fluida bawah permukaan akibat aktivitas manusia. Beberapa proyek geothermal di dunia memang pernah dikaitkan dengan fenomena tersebut.
Kasus Pohang di Korea Selatan pada 2017 adalah salah satu contoh paling terkenal. Gempa berkekuatan sekitar M5,5 dikaitkan dengan proyek Enhanced Geothermal System atau EGS, yang menggunakan injeksi fluida bertekanan tinggi untuk menciptakan atau memperbesar rekahan batuan.
Kasus serupa juga menjadi perhatian di kawasan Strasbourg, Prancis. Operasi geothermal dalam di wilayah tersebut dikaitkan dengan rangkaian gempa yang dirasakan masyarakat dan akhirnya mendorong penghentian proyek serta evaluasi regulasi.
Dua contoh itu membuktikan bahwa risiko gempa terinduksi bukanlah khayalan. Felix benar ketika mengingatkan bahwa risiko tersebut tidak boleh dihapus dari perdebatan.
Namun adanya risiko tidak berarti bahwa gempa merupakan konsekuensi yang pasti dari setiap pengembangan geothermal. Kondisi geologi, jenis teknologi, tekanan injeksi, karakter reservoir, sistem sesar, serta tata kelola operasi berbeda dari satu lapangan ke lapangan lainnya.
Ilmu pengetahuan karena itu tidak mengatakan bahwa geothermal selalu aman. Tetapi ilmu pengetahuan juga tidak mengatakan bahwa geothermal selalu berbahaya.
Baca Juga
Terjadi Jauh Sebelum Geothermal Dibangun
Untuk menjaga proporsi perdebatan, fakta lain juga harus dikemukakan. Gempa tektonik besar telah terjadi di berbagai belahan dunia jauh sebelum industri geothermal berkembang.
Gempa Aceh-Andaman 2004 merupakan akibat pergerakan megathrust di zona subduksi. Gempa Tohoku, Jepang, pada 2011 juga merupakan gempa megathrust. Gempa Nepal 2015 berkaitan dengan tumbukan Lempeng India dan Eurasia. Gempa Turki-Suriah 2023 terjadi pada sistem sesar besar regional. Demikian pula gempa Haiti 2010. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak memerlukan pembangkit geothermal untuk terjadi.
Flores sendiri merupakan bagian dari kawasan tektonik yang sangat aktif. Sistem Flores Back-Arc Thrust terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung dalam skala jutaan tahun. Struktur tektonik tersebut tidak lahir ketika sumur geothermal pertama dibor di Flores.
Karena itu, hubungan antara gempa dan geothermal tidak boleh disimpulkan hanya dari kenyataan bahwa keduanya berada di pulau yang sama. Ilmu pengetahuan harus menanyakan secara spesifik: gempa yang mana, sesar yang mana, proyek yang mana, berapa jaraknya, berapa kedalamannya, serta apakah tersedia mekanisme fisik yang dapat menghubungkan keduanya.
Apakah Setiap Geothermal di Flores Akan Memicu Gempa?
Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan demikian. Jika setiap proyek geothermal dianggap pasti memicu gempa berbahaya, konsekuensi logisnya adalah seluruh pembangkit geothermal yang sudah beroperasi harus dihentikan. Ulumbu dan Sokoria pun harus ditutup. Semua rencana pengembangan baru di Flores juga harus dibatalkan.
Namun pengalaman empiris di Indonesia maupun dunia tidak menunjukkan bahwa setiap proyek geothermal berakhir dengan gempa merusak. Artinya, persoalan tidak dapat diputuskan berdasarkan nama teknologinya semata. Analisis harus dilakukan proyek demi proyek, reservoir demi reservoir, dan lokasi demi lokasi.
Ulumbu tidak otomatis sama dengan Sokoria. Sokoria berbeda dengan Mataloko. Mataloko pun tidak dapat dijadikan representasi semua proyek geothermal di Flores. Demikian pula keberhasilan Kamojang, Lahendong, atau Ulubelu tidak otomatis membuktikan bahwa setiap lokasi di Flores layak dikembangkan.
Setiap proyek harus memiliki pemetaan sesar yang memadai, karakterisasi reservoir, data seismik dasar sebelum pengeboran, analisis hidrogeologi, desain produksi dan reinjeksi, pemantauan mikroseismik secara berkelanjutan, serta protokol penghentian operasi apabila indikator risiko meningkat.
Dengan demikian, prinsip yang sehat bukan “semua geothermal aman” dan bukan pula “semua geothermal berbahaya”. Prinsip yang benar adalah: setiap proyek harus membuktikan kelayakan dan keselamatannya.
Apakah Geothermal Pasti Merusak Lingkungan?
Kata “pasti” kembali menjadi persoalan. Tidak ada sistem energi yang benar-benar tanpa dampak. PLTU membutuhkan tambang batu bara, transportasi, pembakaran, dan menghasilkan emisi. Pembangkit diesel membutuhkan minyak, pengilangan, kapal pengangkut, terminal BBM, serta menghasilkan emisi dan pencemaran. PLTA mengubah bentang sungai. PLTS membutuhkan lahan, panel, jaringan, dan dalam konfigurasi tertentu juga baterai.
Geothermal pun mempunyai jejak lingkungan. Pengeboran membutuhkan jalan dan lahan. Sistem pembangkit membutuhkan jaringan pipa. Ada risiko kebisingan, emisi gas tertentu, gangguan air, perubahan bentang alam, serta persoalan sosial yang berkaitan dengan tanah dan hak masyarakat.
Karena itu, pertanyaannya bukan apakah geothermal memiliki dampak. Tentu memiliki. Pertanyaannya adalah apakah dampak tersebut dapat dikendalikan, apakah manfaatnya lebih besar daripada risikonya, apakah masyarakat mendapat perlindungan yang memadai, dan apakah proyek tetap berada dalam batas daya dukung lingkungan.
Di sinilah kritik filosofis Felix menjadi sangat relevan. Masyarakat tidak boleh sekadar diperlakukan sebagai objek sosialisasi setelah keputusan diambil. Mereka harus memperoleh informasi yang utuh, kesempatan mempertanyakan proyek, akses terhadap data lingkungan, serta jaminan bahwa risiko tidak ditimpakan sepihak kepada warga.
Namun prinsip kehati-hatian juga tidak identik dengan larangan membangun. Jika semua aktivitas yang mempunyai risiko harus dihentikan, hampir tidak ada infrastruktur modern yang dapat dibangun.
Kehati-hatian berarti risiko harus dikenali, diukur, diminimalkan, diawasi, dan ketika melewati batas keselamatan, proyek harus dikoreksi atau dihentikan.
Mataloko Harus Menjadi Pelajaran, Bukan Vonis
Mataloko mempunyai tempat penting dalam perdebatan ini karena menjadi pengalaman konkret masyarakat Flores. Pengalaman tersebut tidak boleh dipandang remeh atau dihapus hanya karena proyek geothermal di tempat lain berhasil. Tetapi Mataloko juga tidak boleh digunakan sebagai dasar deduktif untuk menyimpulkan bahwa seluruh pengembangan geothermal akan mengalami nasib yang sama.
Jika satu proyek bermasalah, langkah ilmiah bukan menggeneralisasi kegagalannya, melainkan melakukan audit secara mendalam.
Apa sesungguhnya yang terjadi di Mataloko? Apakah masalah berasal dari desain eksplorasi, pengeboran, pengelolaan fluida, pelanggaran prosedur, kelemahan pengawasan, persoalan tata kelola, atau kombinasi berbagai faktor?
Pertanyaan itu harus dijawab secara terbuka. Mataloko seharusnya menjadi laboratorium pembelajaran. Jika ada kesalahan, kesalahan tersebut harus diakui dan dijadikan dasar penyempurnaan standar. Pengalaman buruk harus menghasilkan teknologi, pengawasan, dan tata kelola yang lebih baik.
Menutup-nutupi kegagalan sama buruknya dengan menggunakan satu kegagalan sebagai alasan untuk menolak semua proyek.
Pertanyaan yang Lebih Besar: Siapa Membayar Energi Flores?
Pada konteks inilah perdebatan Iryanto dan Felix perlu diperluas. Energi bukan semata persoalan geologi, lingkungan, atau filsafat. Energi juga merupakan persoalan ekonomi dan keadilan antardaerah.
Flores bukan penghasil utama minyak maupun batu bara. Jika kebutuhan listrik terus bergantung pada bahan bakar fosil, sebagian besar sumber energinya harus didatangkan dari luar pulau, termasuk dari wilayah penghasil di Sumatera dan Kalimantan.
Proses itu mempunyai biaya ekonomi dan lingkungan. Ada biaya produksi, pengilangan, pengangkutan, penyimpanan, hingga pembakaran. Ada pula subsidi dan kompensasi dalam sistem kelistrikan nasional. Belum lagi emisi karbon dan kerusakan lingkungan yang terjadi di daerah penghasil energi fosil.
Karena itu, gagasan tentang keadilan distributif yang dikemukakan Felix perlu diterapkan secara lebih luas. Benar bahwa kita harus bertanya: siapa memperoleh keuntungan dari geothermal dan siapa menanggung risikonya?
Tetapi pertanyaan yang sama harus diajukan terhadap pilihan untuk tidak mengembangkan geothermal: siapa membayar biaya energi Flores dan siapa menanggung kerusakan akibat produksi energi di daerah lain?
Jika masyarakat Flores mengonsumsi energi yang sebagian bahan bakunya berasal dari wilayah lain, masyarakat di daerah penghasil juga menanggung risiko lingkungan.
Keadilan lingkungan karena itu tidak boleh berhenti di garis pantai Flores. Tidak adil jika suatu daerah menolak seluruh risiko pembangunan energi di wilayahnya, tetapi menikmati energi yang risiko produksinya ditanggung masyarakat di tempat lain tanpa pernah memasukkan pengorbanan tersebut dalam perhitungan moral.
Subsidi Diperlukan, tetapi Tidak Boleh Menjadi Ketergantungan Permanen
Negara memang berkewajiban memastikan seluruh rakyat mendapat akses listrik dengan harga terjangkau. Subsidi merupakan instrumen yang sah untuk menjamin keadilan sosial.
Namun subsidi seharusnya membantu masyarakat menuju tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, bukan mengabadikan ketergantungan pada struktur energi yang mahal dan tidak efisien.
Jika Flores mempunyai sumber energi lokal yang layak secara teknis, relatif rendah karbon, dan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar dari luar pulau, pemerintah berkewajiban setidaknya mengkajinya dengan serius.
Ini tidak berarti seluruh potensi geothermal harus dieksploitasi. Pertanyaan Iryanto mengenai apakah seluruh titik geothermal Flores benar-benar perlu dikembangkan justru sangat relevan. Jawabannya harus ditentukan berdasarkan kebutuhan listrik, daya dukung lingkungan, ekonomi proyek, tata ruang, penerimaan masyarakat, serta rencana pembangunan Flores dalam beberapa dekade ke depan.
Jangan membangun geothermal hanya karena sumber dayanya tersedia. Tetapi jangan pula membiarkan sumber daya tersebut tidak pernah disentuh hanya karena kita takut membicarakan risikonya.
Tanpa Energi yang Cukup, Bagaimana Flores Naik Kelas?
Ini salah satu persoalan paling penting yang sering tenggelam dalam perdebatan geothermal. Flores tidak membutuhkan listrik hanya untuk menyalakan lampu rumah tangga. Energi adalah fondasi aktivitas ekonomi.
Pertanian tidak akan mudah naik kelas dari penjualan bahan mentah menuju agroindustri tanpa pasokan listrik yang cukup dan stabil. Kopi membutuhkan pengolahan, pengeringan, roasting, dan pengemasan. Kakao membutuhkan fermentasi dan pengolahan. Hasil hortikultura membutuhkan penyimpanan dingin.
Sektor perikanan membutuhkan pabrik es, cold storage, fasilitas pengolahan, dan rantai dingin. Pariwisata membutuhkan hotel, transportasi, layanan digital, dan berbagai fasilitas dengan pasokan listrik andal. Rumah sakit, sekolah, kampus, UMKM, dan industri pengolahan juga membutuhkan energi yang tidak hanya tersedia, tetapi berkualitas. Dengan demikian, hilirisasi pertanian dan perikanan pada akhirnya juga merupakan persoalan energi.
Kita tidak dapat terus menyerukan kepada generasi muda Flores agar menciptakan industri, membuka lapangan kerja, dan membangun usaha produktif tanpa menjawab satu pertanyaan dasar: dari mana energi yang murah, cukup, dan stabil akan diperoleh?
Jika geothermal ditolak, itu merupakan pilihan yang sah apabila diambil melalui proses demokratis dan berdasarkan informasi yang benar. Tetapi keputusan tersebut mempunyai opportunity cost.
Karena itu, pihak yang menolak geothermal mempunyai kewajiban intelektual yang sama besarnya dengan pihak yang mendukungnya: menyediakan alternatif yang dapat dihitung.
Berapa kebutuhan listrik Flores pada 2030, 2040, dan 2050? Dari mana sumbernya? Berapa biaya pembangkitannya? Berapa kebutuhan investasi jaringan dan penyimpanan energi? Seberapa besar subsidinya? Tanpa jawaban terhadap pertanyaan tersebut, penolakan hanya memindahkan persoalan ke masa depan.
Matahari atau Geothermal?
Pertanyaan mengenai mana yang lebih murah antara energi matahari dan geothermal tidak dapat dijawab hanya dengan satu angka.
Secara global, biaya pembangkitan listrik tenaga surya telah turun sangat tajam. Dalam banyak proyek baru, PLTS bahkan menjadi salah satu sumber listrik termurah.
Namun matahari bersifat intermiten. Produksinya berubah mengikuti waktu, cuaca, dan musim. Ketika penetrasinya semakin besar, sistem membutuhkan baterai, pembangkit fleksibel, atau sumber energi lain untuk menjaga kestabilan.
Geothermal mempunyai karakter berbeda. Setelah sumber daya terbukti dan pembangkit beroperasi, geothermal mampu menghasilkan listrik relatif stabil selama 24 jam dengan capacity factor tinggi.
Karena itu, perbandingan yang benar bukan sekadar biaya satu kilowatt-jam dari panel surya melawan satu kilowatt-jam geothermal. Yang harus dibandingkan adalah biaya sistem energi secara keseluruhan.
Berapa biaya PLTS ditambah baterai? Berapa kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan agar listrik tetap tersedia malam hari? Berapa cadangan daya yang diperlukan? Bagaimana kondisi jaringan di Flores?
Dengan cara pandang seperti itu, Flores tidak perlu memilih secara ideologis antara matahari atau geothermal. Pilihan yang lebih rasional justru dapat berupa kombinasi: matahari dan geothermal, ditambah tenaga air, angin, baterai, dan interkoneksi sejauh layak secara teknis dan ekonomis.
Matahari menyediakan listrik murah ketika tersedia. Geothermal yang memenuhi syarat dapat menjadi sumber energi stabil sepanjang hari. Penyimpanan dan jaringan kemudian menjaga keseimbangan sistem.
Masa depan energi bukan perlombaan untuk menemukan satu teknologi pemenang. Masa depan energi adalah kemampuan merancang kombinasi sumber daya yang paling murah, aman, bersih, dan andal.
Filsafat Juga Harus Menghitung Konsekuensi
Felix memberikan koreksi penting ketika mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mempunyai hak tunggal menentukan kebijakan publik. Seorang geolog dapat menjelaskan sesar dan reservoir. Insinyur dapat menghitung tekanan sumur. Ekonom dapat menghitung biaya energi. Tetapi kebijakan juga menyangkut tanah, kebudayaan, martabat masyarakat, distribusi manfaat, dan keadilan antargenerasi.
Di situlah filsafat dan etika mempunyai tempat. Namun refleksi moral juga tidak boleh berhenti hanya pada identifikasi risiko pembangunan.Tidak membangun pun merupakan keputusan yang mempunyai konsekuensi.
Jika geothermal tidak dikembangkan, energi harus diperoleh dari sumber lain. Jika pilihannya diesel, akan ada biaya bahan bakar, subsidi, emisi, dan ketergantungan logistik. Jika seluruhnya dialihkan ke matahari, dibutuhkan investasi jaringan dan penyimpanan yang tidak kecil.
Jika kapasitas energi tidak bertambah, konsekuensinya juga nyata: industri sulit berkembang, kesempatan kerja terbatas, hilirisasi tertunda, dan sebagian generasi muda akan terus mencari pekerjaan di luar daerah.
Kemiskinan mempunyai biaya sosial. Pengangguran mempunyai biaya sosial. Migrasi karena kekurangan pekerjaan juga mempunyai biaya sosial.
Karena itu, prinsip common good tidak cukup bertanya bagaimana mencegah kerusakan hari ini. Ia juga harus bertanya bagaimana membuka kemungkinan hidup yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.
Pengetahuan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Tidak Perlu Dipertentangkan
Felix juga mengingatkan mengenai pentingnya pengetahuan lokal. Kritik ini patut diperhatikan. Masyarakat yang setiap hari hidup di suatu wilayah sering kali melihat perubahan yang tidak tertangkap oleh laporan teknis. Petani dapat mengetahui jika mata air berubah. Warga dapat merasakan bau gas, kebisingan, retakan, atau perubahan tanaman.
Informasi itu berharga dan harus menjadi bagian dari sistem pemantauan. Namun pengetahuan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan ilmu geofisika.
Pengalaman masyarakat tidak dapat menggantikan seismometer untuk menentukan hiposenter gempa. Sebaliknya, alat geofisika juga tidak dapat menggantikan pengalaman masyarakat mengenai perubahan kehidupan sehari-hari. Keduanya harus saling melengkapi.
Pengetahuan lokal memberi tahu apa yang dialami manusia di permukaan. Ilmu pengetahuan membantu menjelaskan apa yang terjadi di bawah permukaan.
Demokratisasi pengetahuan bukan berarti menolak ilmu karena dianggap datang dari luar. Demokratisasi berarti memastikan masyarakat mempunyai akses terhadap data yang selama ini hanya dimiliki pemerintah dan perusahaan: data kualitas air, gas, seismisitas, tekanan reservoir, serta hasil pemantauan lingkungan. Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar diminta percaya. Mereka dapat ikut mengawasi.
Gereja Tidak Harus Pro atau Anti-Geothermal
Di Flores, Gereja mempunyai pengaruh sosial dan moral yang sangat besar. Karena itu, suaranya tidak dapat diabaikan. Tetapi posisi Gereja tidak harus direduksi menjadi pilihan sederhana antara mendukung atau menolak geothermal.
Gereja dapat mengambil posisi yang jauh lebih kuat: menjadi penjaga martabat manusia, keutuhan lingkungan, keadilan, transparansi, dan kepentingan masyarakat kecil.
Gereja dapat memastikan bahwa tanah tidak diambil secara sewenang-wenang, masyarakat memperoleh informasi, kompensasi diberikan secara adil, manfaat ekonomi dinikmati warga sekitar, data lingkungan dibuka, dan proyek dihentikan jika terbukti membahayakan.
Dengan posisi seperti itu, Gereja bukan menjadi penghambat pembangunan, melainkan penjaga agar pembangunan berlangsung secara bermartabat. Sebaliknya, pemerintah dan perusahaan juga harus memahami bahwa penerimaan sosial tidak dapat dibangun hanya melalui sosialisasi setelah keputusan diambil. Kepercayaan harus hadir sebelum pengeboran dimulai.
Dari Pro-Kontra Menuju Pertanyaan yang Lebih Dewasa
Perdebatan Iryanto dan Felix sesungguhnya dapat membawa Flores menuju diskusi yang jauh lebih produktif apabila kedua perspektif tidak dipertentangkan. Gempa 15 Agustus 2026 adalah gempa tektonik. Tanpa bukti ilmiah yang memadai, gempa tersebut tidak boleh digunakan untuk menuduh geothermal sebagai penyebabnya.
Namun geothermal juga bukan teknologi tanpa risiko. Pengalaman Pohang dan Strasbourg menunjukkan bahwa induced seismicity dapat terjadi dalam kondisi tertentu. Karena itu setiap proyek harus mempunyai kajian seismik, hidrogeologi, lingkungan, dan sosial yang ketat.
Mataloko harus dipelajari secara terbuka. Tidak boleh ditutup-tutupi, tetapi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi semua proyek.
Tidak semua potensi geothermal Flores harus dikembangkan. Lokasi yang mempunyai risiko geologi, lingkungan, atau sosial terlalu besar harus ditinggalkan.
Sebaliknya, apabila ada lokasi yang dapat dibuktikan aman, ekonomis, memenuhi daya dukung lingkungan, diterima masyarakat, dan memberikan manfaat besar bagi warga setempat, tidak rasional pula menolaknya hanya karena menggunakan teknologi geothermal.
Karena itu pertanyaan bagi Flores seharusnya tidak lagi berhenti pada: “Apakah kita pro atau kontra geothermal?” Pertanyaannya harus naik kelas: Berapa energi yang dibutuhkan Flores untuk menjadi lebih sejahtera, dari sumber apa energi itu dapat diperoleh dengan biaya ekonomi, sosial, dan ekologis paling rendah, serta bagaimana memastikan masyarakat Flores menjadi penerima manfaat utama sekaligus terlindungi dari risikonya?
Itulah perdebatan yang sesungguhnya diperlukan. Sebab menolak semua geothermal karena satu kegagalan sama tidak ilmiahnya dengan menerima semua geothermal hanya karena beberapa proyek berhasil. Menganggap setiap gempa disebabkan geothermal sama kelirunya dengan mengatakan geothermal sama sekali tidak mempunyai risiko.
Ilmu pengetahuan membantu kita memahami dan mengukur risiko. Filsafat mengingatkan untuk siapa risiko itu diambil. Ekonomi menghitung harga setiap pilihan. Kebijakan publik memastikan manfaat dan beban dibagi secara adil.
Flores membutuhkan semuanya. Kekayaan geothermal di bawah tanah tidak harus dieksploitasi seluruhnya. Tetapi potensi tersebut juga tidak seharusnya dikubur oleh ketakutan sebelum diuji secara ilmiah. Matahari yang melimpah harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Geothermal yang terbukti layak dapat menjadi sumber listrik stabil ketika matahari tenggelam. Energi air, angin, baterai, dan jaringan harus melengkapinya.
Tujuan pembangunan energi bukan memenangkan pertarungan antara kubu pro dan kontra geothermal. Tujuannya adalah memastikan bahwa kekayaan alam Flores —matahari di atas langitnya, panas bumi di bawah tanahnya, laut yang mengelilinginya, tanah yang menghidupi masyarakatnya, dan terutama manusia yang tinggal di atasnya— benar-benar digunakan untuk membuat rakyat Flores lebih aman, lebih mandiri, dan lebih sejahtera.
