KDKMP Salurkan Barang Subsidi, Prabowo: Tidak Boleh Diperdagangkan
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto mengatakan, Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih (KDKMP) atau Kopdes Merah Putih nantinya akan menyalurkan barang subsidi pemerintah kepada rakyat yang membutuhkan. Prabowo melarang memperjualbelikan barang-barang subsidi yang disalurkan KDKMP.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam taklimatnya pada sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Baca Juga
Prabowo Minta Kirim Tim ke Brasil hingga Vietnam untuk Belajar Hilangkan Kelaparan
Prabowo menekankan barang subsidi dari pemerintah merupakan milik rakyat. Untuk itu, barang-barang tersebut dilarang diperjualbelikan.
“Tiap koperasi akan menyalurkan semua barang-barang subsidi, barang subsidi adalah milik rakyat, tidak boleh diperdagangkan,” kata Prabowo.
Prabowo mengatakan, saat ini, lebih dari 1.000 unit Kopdes Merah Putih telah beroperasi. Meski mengakui terdapat sejumlah kendala, Prabowo menyatakan, bakal terdapat 30.000 unit Kopdes Merah Putih yang akan berdiri pada akhir 2026 ini.
Kepala Negara menekankan, koperasi ini adalah koperasi operasional, bukan koperasi di atas kertas. Tiap koperasi memiliki gudang dan kamar pendingin atau cold storage untuk menyimpan hasil panen para petani di desa. Selain itu, tiap koperasi akan memiliki dua unit truk.
"Tiap koperasi akan punya gerai-gerai. Tiap koperasi akan menjual obat generik murah. Tiap koperasi akan punya bengkel untuk memperbaiki alsintan," katanya.
Prabowo menekankan, dengan kehadiran Kopdes Merah Putih, pemerintah Indonesia untuk pertama kalinya memiliki pegangan rantai pasok atau supply chain. dari pusat sampai ke desa. Dengan keberadaan Kopdes Merah Putih tidak ada lagi kelangkaan atau penimbunan barang.
"Tidak bisa nanti ada barang langka. Tidak bisa nanti ada menimbun barang di saat kritis. Mau Idulfitri barang langka, mau tahun baru barang langka, tidak bisa karena kita akan mengerti di mana langka di mana lebih. Satu desa kelebihan telur, di desa lain kurang, kita akan paham dan mengerti, dan kita akhirnya akan lebih baik dan lebih cepat untuk mengendalikan inflasi," tegasnya.
Kepala Negara menjelaskan, Kopdes Merah Putih bertujuan untuk menghilangkan rentenir yang hidup dari mengisap darah para petani. Dengan bunga 1% sehari, tidak mungkin petani dapat bangkit. Namun, dalam perkembangannya, Prabowo menemukan persoalan pada rantai pasok yang mengakibatkan terjadinya pemborosan hingga Rp 313 triliun berdasarkan riset yang dilakukan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dan jajarannya.
"Tadinya tujuannya itu. Ternyata kita menemukan bahwa rantai pasok ini bisa memicu, menghemat ratusan triliun rupiah," katanya.
Selama ini, kata Prabowo, petani menjual ke pengepul yang diteruskan ke distributor dan sub-distributor. Dari sub-distributor kemudian ke pedagang grosir dan pedagang ritel. Dengan demikian, terdapat sekitar lima pihak sebelum barang tiba di konsumen.
"Ternyata setelah diriset oleh Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman), keuntungannya yang diambil oleh pihak penengah ini adalah 30 sampai 40%. Jadi diperhitungkan Rp 313 triliun! Jadi yang dinikmati oleh petani hanya 30% (sepertiga), yang dinikmati oleh konsumen 30%, yang 40% dinikmati oleh middlemen. Sulit untuk ada kemakmuran," katanya.
Baca Juga
Menko Pangan Zulhas: Kopdes Merah Putih Jangan Dibayangkan Seperti Supermarket
Prabowo mengatakan, Kopdes Merah Putih cukup mengambil margin sekitar 5%. Dengan demikian, sisanya dapat dinikmati oleh petani dan konsumen.
"Ini adalah keamanan ekonomi jangka panjang," katanya.
Dengan teori velocity of money, Prabowo mengatakan, perputaran uang Rp 250 triliun dari kehadiran Kopdes Merah Putih, kegiatan ekonomi yang ditimbulkan dapat mencapai minimal Rp 500 miliar hingga Rp 600 triliun.
"Bisa kita bayangkan kalau Rp 250 triliun beredar di rakyat, itu ada istilah para ekonom ajarkan kepada saya, saya bukan ekonom, saya hanya dapat pelajaran dari ekonom-ekonom, itu ada namanya velocity of money. Jadi kalau satu rupiah beredar di masyarakat, kegiatan ekonomi yang ditimbulkan bisa dua, tiga sampai empat kali lipat. Kalau minimal dua kali berarti 600 triliun atau 500 triliun minimal akan beredar di rakyat kita di bawah. Kalau sampai tiga kali empat kali itu kita bisa bayangkan," katanya.
