Budiman Sudjatmiko: Prabowo Subianto Sosok Rekonsiliator Ideologi Soekarno dan Sumitro
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, mengungkapkan sebuah fakta sejarah yang menyentuh terkait hubungan dua tokoh besar bangsa, Soekarno dan Sumitro Djojohadikusumo.
Dalam acara peluncuran buku "Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo" di Universitas Paramadina, Rabu (10/6/2026), Budiman menyebut Presiden terpilih Prabowo Subianto kini mengemban misi untuk menyatukan kedua pemikiran besar tersebut.
Budiman menceritakan testimoni dari Hashim Djojohadikusumo mengenai momen sakratulmaut sang ayah, Sumitro Djojohadikusumo. Saat itu, Sumitro mengaku penyesalan terbesarnya dalam hidup adalah pernah meninggalkan Bung Karno.
Baca Juga
Buku "Presiden Solusi" Rangkum 108 Persoalan yang Diselesaikan Prabowo dalam 18 Bulan
"Hal yang paling disesali oleh Papi (Sumitro) adalah 'Saya meninggalkan Bung Karno'. Itu yang diceritakan Pak Hashim kepada saya," ujar Budiman di hadapan para akademisi dan tokoh nasional.
Menurut Budiman, ketegangan antara Bung Karno dan Sumitro di masa lalu bukan terletak pada substansi ekonomi sosialisme yang mereka anut, melainkan pada perbedaan perspektif geopolitik. Bung Karno fokus pada kedaulatan Sumber Daya Alam (SDA) dan redistribusi aset (reforma agraria), sementara Sumitro lebih dulu mendorong industrialisasi dengan keterbukaan pada modal asing.
Baca Juga
Di Munas Hipmi, Prabowo: Pasar Indonesia Harus Dinikmati Putra-putri Bangsa
Budiman menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, dualisme visi tersebut kini direkonsiliasikan. Prabowo dinilai menggabungkan hilirisasi SDA ala Soekarno dengan industrialisasi manufaktur modern yang dicita-citakan Sumitro.
"Pak Prabowo ingin merekonsiliasikan keduanya. Hilirisasi SDA (Kurikulum Satu) dijalankan, namun pada saat yang sama industrialisasi dan penguatan modal melalui badan seperti Danantara juga dilakukan," jelas Budiman.
Langkah ini, lanjut Budiman, menunjukkan bahwa estafet ideologi dari Sumitro ke Prabowo bukan sekadar warisan biologis, melainkan upaya matang untuk menjahit kedaulatan nasional dengan kemajuan teknologi global.
Buku 'Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo' ditulis oleh Dosen Universitas Paramadina sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensa). Buku ini secara khusus membedah bagaimana pemikiran ekonomi-politik Sumitro Djojohadikusumo kini diterjemahkan dan diimplementasikan oleh sang putra, Presiden RI Prabowo Subianto.
Hensa menjelaskan bahwa buku ini ditulis untuk menangkap sejauh mana pemikiran Sumitro di masa lalu dihidupkan kembali dalam kebijakan negara saat ini, serta melihat perbedaan signifikan yang muncul karena peralihan zaman.
"Estafet ini jangan diartikan bahwa Sumitro memberikan tongkat ke Pak Prabowo. Saya mengartikan estafet ini justru sebagai inisiatif Pak Prabowo yang mengambil tongkat dari Sumitro untuk meneruskan gagasan-gagasannya dalam menyejahterakan Indonesia," ujar Hensa saat memberikan sambutan.
Menggunakan pendekatan komunikasi publik, Hensa menyusun runtutan pemikiran begawan ekonomi tersebut agar dapat mengalir dan lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas saat disandingkan dengan langkah politik Prabowo hari ini.

