Komunikasi Organisasi Polri dalam Penanganan Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026
Ibnu Hariyanto - Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
JAKARTA, investortrust.id - Arus mudik dan arus balik Idul Fitri merupakan momentum tahunan yang selalu jadi perhatian publik. Pergerakan jumlah kendaraan meningkat drastis pada momen tersebut. Berdasarkan pemantauan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Mobile Positioning total pergerakan orang selama 17 hari arus mudik dan balik Lebaran 2026 sebanyak 147,55 juta.
Kemudian pergerakan pemudik di transportasi umum menunjukkan peningkatan. Peningkatan paling pesat terjadi pada kapal laut, yakni sekitar 12 persen. Namun, penurunanterjadi pada angkutan sungai, danau, dan penyeberangan, dari 4.789.274 orang pada 2025 menjadi 4.662.382 orang pada 2026. Jumlah kendaraan yang melintas juga tercatat meningkat. Pada jalan tol, volume kendaraan naik 2 persen, sedangkan pada jalan arteri meningkat 18,9 persen.
Polri menjadi aktor sentral dalam pengendalian arus kendaraan dalam arus mudik dan balik Lebaran 2026. Pusat perhatian publik dalam periode arus mudik dan balik lebaran ini tertuju pada kepadatan di Tol Jakarta Cikampek hingga Trans Jawa. Data mencatat ada lonjakan volume lalu lintas signifikan di Tol Trans Jawa dan Jakarta-Cikampek. Lebih dari 3,1 jutakendaraan kembali ke Jabotabek hingga 30 Maret 2026, meningkat 51,22% dibanding normal. Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyebut volume kendaraan saat puncak arus balik Lebaran 2026 pada Selasa (24/3/2026) mencapai 250 ribu kendaraan. Jumlah menjadi arus balik terbanyak dalam sejarah.
Polri sudah menyiapkan pengaturan lalu lintas yang fleksibel dan berbasis situasi lapangan terutama pada titik-titik krusial seperti rest area dan simpang keluar tol untuk menghindari kepadatan. Komunikasi organisasi Polri menjadi fondasi utama koordinasi untuk penanganan arus mudik dan balik lebaran 2026. Struktur komunikasi hierarkis sering kali diterapkan dalam penanganan tersebut. Menurut Fioretti & Neumann (2022), struktur komunikasi hierarkis adalah pola komunikasi yang mengikuti bentuk organisasi bertingkat yakni mana aliran informasi bergerak melalui level otoritas yang berbeda.
Baca Juga
Arus Balik Lebaran 2026 Tembus 3,38 Juta Kendaraan ke Jabotabek
Komunikasi hierarkis dalam organisasi biasanya berlangsung melalui tiga saluran utama. Komunikasi ke bawah berkaitan dengan penyampaian informasi, instruksi, dan kebijakan dari manajemen kepada karyawan (Kalogiannidis, 2021). Komunikasi ke atas adalah aliran umpan balik, saran, dan masukan dari karyawan kepada jajaran manajemen puncak (Ikediugwu & Chijindu, 2023). Komunikasi lateral adalah komunikasi yang terjadi di antara karyawan atau departemen yang berada pada tingkat hierarki yang sama, dan hal ini membantu dalam koordinasi dan kerja sama tim (Syakur dkk., 2020).
Dalam konteks penanganan arus mudik dan balik lebarana 2026, komunikasi hierarkis sangat terasa dalam tubuh Polri. Jalur komunikasi dari pimpinan tertinggi yakni Kapolri yang berada di Mabes Polri kepada jajaran di bawahannya mulai dari Kakorlantas, Kapolda hingga pos-pos pengamananan di daerah. Implementasi konsep komunikasi ke bawah dan ke atas dalam penanganan arus mudik dan balik itu bisa terlihat ketika Kapolri sebagai pemimpin tertinggi Polri berperan sebagai pemberi arahan atau instruksi kepada jajarannya untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi di lapangan, sementara jajaran yang di bawah langsung memberikan laporan atau umpan balik apa saja yang sudah dilakukan untuk menindaklanjuti perintah tersebut.
Tak hanya, jalur komunikasi itu kerap kali dipadukan dengan komunikasi horizontal lintas lembaga. Polri dalam hal ini Korlantas sering kali melakukan koordinasi dengan lembaga lain mulai dari Kementerian Perhubungan, Jasa Marga hingga pemerintah daerah. Penerapan komunikasi horizontal ini sering terjadi dalam bentuk Operasi Ketupat. Operasi ini menjadi contoh konkret integrasi tersebut. Operasi Ketupat merupakan operasi kemanusiaan yang tidak hanya berfokus pada arus lalu lintas, tetapi juga pengamanan seluruh aktivitas masyarakat selama Lebaran.
Baca Juga
Polisi Prediksi Puncak Arus Mudik Libur Nataru Terjadi Dua Kali
Penerapan operasi ini menunjukkan komunikasi organisasi Polri melibatkan banyak aktordalam satu sistem terpadu, mulai dari TNI, Kementerian Perhubungan, hingga pemerintah daerah. Salah satu penerapakan komunikasi horizontal ini terlihat ketika penerapan rekayasa lalu lintas one way. Dalam hal ini Polri sebagai pimpinan di Operasi Ketupat berkoordinasi secara intens dengan Kemenhub hingga Pemerntah Daerah untuk menyiapkan pelaksaan one way nasional. Tanpa adanya koordinasi yang intens penerapan one way nasional yang memilik jarak ratusan kilometer yang membentang dari Jabodetabek hingga Jawa Tengah itu tak mungkin terlaksana dengan baik.
Pada arus mudik dan balik 2026 ini, Polri juga memanfaatkan komunikasi publik berbasis teknologi. Hal itu terlihat dari Polri melalui Korlantas sangat aktif menyampaikan informasi terkini terkait penanangan operasi ketupat di akun media sosial resmi Polri. Polri terus meng-update informasi kepada masyarakat tentang pelaksaan arus mudik dan balik lebaran. Strategi ini memperlihatkan bagaimana komunikasi organisasi tidak hanya bersifat internal namun juga eksternal. Sinergi ini bertujuan membentuk perilaku masyarakat agar lebih tertib dan adaptif terhadap kebijakan lalu lintas.

