Garuda (GIAA) Diprediksi Pulih Mulai 2026, Direkomendasikan Beli dengan Target Harga Saham Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) diperkirakan mulai memasuki fase pemulihan kinerja pada 2026, seiring implementasi sejumlah strategi transformasi bisnis dan perbaikan struktur keuangan.
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas dalam riset inisiasi tentang Garuda Indonesia untuk memberikan rekomendasi beli saham GIAA dengan target harga Rp 130 per saham. Target harga tersebut mencerminkan peluang kenaikan harga lebih dari 75% dari harga penutupan saham GIAA kemarin level Rp 73. Valuasi tersebut didasarkan pada proyeksi EV/EBITDAR 2026 sebesar 9,0 kali, sejalan dengan rata-rata industri, dengan dukungan margin EBITDAR sekitar 27,2%.
Analis Samuel Sekuritas Jason Sebastian dalam riset yang diterbitkan kemarin menyebutkan, Garuda (GIAA) tengah menjalankan delapan inisiatif strategis untuk mengembalikan posisi sebagai maskapai unggulan di Asia. Langkah ini dilaksanakan di tengah upaya perusahaan mengatasi persoalan struktural dan inefisiensi operasional yang masih menjadi tantangan.
Baca Juga
Garuda Indonesia (GIAA) Ungkap Progress Merger dengan Pelita Air, Ini Data Terbaru
Delapan strategi tersebut meliputi perbaikan neraca melalui skema debt-to-equity swap senilai US$ 405 juta serta suntikan modal US$ 1 miliar dari Danantara. Rasionalisasi armada dan biaya operasional untuk mencapai kinerja laba yang konsisten, hingga strategi mengutamakan margin dibandingkan pangsa pasar melalui perencanaan rute dan armada yang lebih disiplin.
Garuda (GIAA) juga memperkuat manajemen pendapatan melalui optimalisasi rute, frekuensi penerbangan, dan harga tiket berbasis data. Perusahaan juga melakukan penyegaran tim manajemen, melakukan cultural reset untuk membangun kembali fokus organisasi, memanfaatkan kondisi saat ini sebagai katalis inovasi dan transformasi jangka panjang, serta membangun aliansi strategis guna memperluas jangkauan bisnis dengan risiko modal yang terbatas.
“Dari sisi operasional, kami memperkirakan pemulihan kinerja keuangan Garuda mulai berlangsung pada periode 2026–2027. Pemulihan tersebut didorong oleh peningkatan frekuensi penerbangan, disiplin biaya, serta perbaikan struktur permodalan,” tulis riset tersebut.
Perbaikan tersebut diharapkan menopang pertumbuhan pendapatan GIAA menjadi US$ 3,7 miliar pada 2026 atau tumbuh 13,7% secara tahunan (year on year/YoY) dan diprediksi kembali meningkat menjadi US$ 4,0 miliar pada 2027 atau tumbuh 10,8% YoY. Perseroan juga diprediksi mulai berbalik positif dengan perolehan laba pada 2026 sebesar US$ 3 juta, sebelum meningkat menjadi US$ 59 juta pada 2027.
Samuel Sekuritas juga memperkirakan EBITDA Garuda diproyeksikan naik dari 25,1% pada 2025 menjadi 30,6% pada 2026 dan 30,8% pada 2027. Peningkatan tersebut didorong oleh berkurangnya jumlah pesawat yang menganggur serta penurunan biaya perawatan.
Baca Juga
Seskab Teddy Ungkap Tekad Prabowo Jadikan Garuda Indonesia (GIAA) Maskapai Besar dan Mendunia
Perbaikan fundamental keuangan Garuda Indonesia juga didukung oleh langkah restrukturisasi melalui Danantara. Suntikan modal sebesar US$ 1 miliar dan konversi utang menjadi ekuitas senilai US$ 405 juta dinilai dapat membantu memperkuat neraca perusahaan.
“Pendanaan ini diperkirakan meningkatkan ekuitas perusahaan menjadi US$ 214 juta pada 2025 sekaligus menyediakan pendanaan untuk kebutuhan perawatan armada dan pembayaran utang,” tulisnya.
Selain keberhasilan restrukturisasi, Samuel Sekuritas menyebutkan, GIAA dinilai akan bergantung pada keberhasilan merger dengan Pelita Air serta disiplin pengelolaan belanja modal dan peningkatan profitabilitas.

