Inflasi AS Panas, Bitcoin Kembali Melemah dan Terancam Lanjutkan Penurunan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin kembali tertekan pada perdagangan akhir pekan ini setelah data inflasi produsen keluar jauh lebih tinggi dari perkiraan. Bitcoin, aset kripto terbesar di dunia ini turun sekitar 2,11% dalam sehari dan diperdagangkan di sekitar US$ 65.778 pada Sabtu (28/2/2026) pukul 08.45 WIB menurut data Coinmarketcap. Investor menjauhi aset yang lebih berisiko, khawatir tentang inflasi yang terus-menerus, gangguan kecerdasan buatan, dan masalah terkait kredit swasta.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) Januari menunjukkan kenaikan 0,5% secara bulanan, lebih tinggi dari proyeksi ekonom sebesar 0,3%. Lebih mengkhawatirkan lagi, PPI inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, melonjak 0,8%, jauh di atas ekspektasi 0,3%. Angka ini mengindikasikan tekanan inflasi masih kuat, terutama dari sektor jasa.
Sejumlah analis memperingatkan tren penurunan Bitcoin masih berlanjut dan berpotensi membawa harga turun lebih dalam, bahkan mencapai US$ 30.000–US$ 45.000 pada kuartal terakhir 2026.
Melansir Cointelegraph, Sabtu (28/2/2026) pedagang kripto dengan nama akun Darky menyebut Bitcoin saat ini masih berada dalam fase pasar bearish yang relatif awal. Ia mengacu pada data historis yang menunjukkan pasar bearish terpendek Bitcoin berlangsung sekitar 365 hari.
“Bitcoin saat ini baru sekitar 140 hari berada dalam pasar bearish. Kita akan turun jauh lebih rendah, hanya soal waktu,” ucapnya.
Baca Juga
Citi Bakal Rilis Layanan Penitipan dan Perbankan Bitcoin di Tahun Ini
Pandangan senada disampaikan penyedia data on chain CryptoQuant, yang menyatakan bahwa pembentukan titik terendah membutuhkan waktu. Berdasarkan pola harga pasca-halving sebelumnya, Bitcoin diperkirakan mencapai titik terendah siklus antara Juni hingga Desember 2026, dengan periode optimal secara historis berada di September–November.
Analis lain dengan nama akun Batman menambahkan, dalam siklus sebelumnya, Bitcoin mencetak titik terendah sekitar 365 hingga 396 hari setelah puncak pasar. Dengan rekor harga tertinggi Bitcoin di atas US$ 126.000 yang tercapai pada 2 Oktober 2025, proyeksi waktu tersebut mengarah ke Oktober–November 2026. “Berapa pun harga yang terbentuk saat itu, secara historis akan menjadi area beli yang menarik,” ujarnya.
Data CryptoQuant juga menunjukkan metrik pasokan Bitcoin dalam kondisi untung (supply in profit) telah turun ke level yang terakhir terlihat pada titik terendah pasar bearish 2022. Pada periode tersebut, fase bottoming berlangsung sekitar enam bulan.
Jika pola penurunan 2022 diterapkan pada siklus saat ini, Bitcoin berpotensi mengalami koreksi 70%–75% dari puncaknya. Skenario ini membuka peluang penurunan lanjutan menuju kisaran US$ 31.500–US$ 38.000 dalam enam bulan ke depan. Analis menilai volatilitas tinggi masih akan membayangi pasar kripto, seiring proses pencarian titik keseimbangan baru setelah reli besar pada siklus sebelumnya.
Secara terpisah, harga Bitcoin tertekan mengikuti tekanan jual di pasar saham global yang dipicu oleh aksi sell the news pasca rilis laporan keuangan Nvidia (NVDA). Bitcoin mengalami penurunan dan menghapus sebagian keuntungan dari rebound pada Rabu (25/2/2026) setelah gagal menembus level US$ 70.000.
“Meskipun harga terkoreksi, data fundamental dari sisi institusional menunjukkan sinyal yang sangat positif untuk memutus rantai sentimen negatif selama lima pekan terakhir,” jelas Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga
Dari Langkah Pro Kripto hingga Tarif Agresif, Ini Momen-momen Presiden Trump Pengaruhi Harga Bitcoin
Setelah mencatat net outflow sebesar US$ 203,82 juta pada awal pekan ini, pasar Bitcoin Spot ETF menunjukkan pemulihan luar biasa dengan arus masuk bersih sebesar US$ 257,71 juta pada 24 Februari dan melonjak ke US$ 506,51 juta pada 25 Februari.
Sedangkan akumulasi net inflow sementara pekan ini telah mencapai US$ 560,41 juta. “Sebuah pencapaian krusial mengingat pasar sebelumnya terjebak dalam tren arus keluar bersih sejak 23 Januari hingga 20 Februari,” sambung Panji.
Fokus pasar memang tertuju pada rilis laporan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat untuk bulan Januari pada Jumat malam kemarin. Data konsensus menunjukkan, adanya proyeksi moderasi inflasi di tingkat produsen; Core PPI bulanan diperkirakan melandai ke 0,3% (mom) dari sebelumnya 0,7% (mom) dan Core PPI tahunan diprediksi turun ke 3% (yoy) dari 3,3% (yoy). Sementara itu, PPI tahunan umum diproyeksikan melambat signifikan ke angka 2,6% (yoy) dari sebelumnya 3% (yoy).

