Bakrie & Brothers (BNBR) Raih Restu Rights Issue Maksimal Rp 6,5 Triliun, Rasio Utang akan Turun Signifikan
JAKARTA, investortrust.id – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah mengantongi persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan target dana Rp 6,5 triliun. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Jakarta, Jumat, (27/2/2026).
“Perseroan menilai perlu untuk melaksanakan PMHMETD dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait Pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT),” kata Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie kepada wartawan usai RUPSLB di Bakrie Tower, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga
IHSG Ditutup Berbalik Naik Tipis Hari Ini, Saham BNBR Lompat 32,92%
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti menambahkan, Perseroan membidik dana segar hingga Rp 6,5 triliun dari aksi penerbitan saham baru dengan jumlah 90 miliar.
“Target pengumpulan mungkin antara Rp 4 sampai 6,5 triliun ya kira-kira. Tapi nanti angka pastinya tanggal 9 Maret ya,” ujar Roy.
Melalui mekanisme PMHMETD ini, BNBR berencana menerbitkan saham baru seri E sebanyak-banyaknya 90 miliar saham. Saham tersebut akan dikeluarkan dari portepel dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Perseroan akan menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari PMHMETD untuk pembayaran kewajiban perseroan dan/atau anak perusahaan kepada kreditur, serta untuk modal kerja dan pengembangan usaha di Perseroan dan/atau anak perusahaan, termasuk CCT,” ujar Anin.
Baca Juga
Usai Akuisisi CCT, Bakrie & Brothers (BNBR) Siapkan Rights Issue 90 Miliar Saham
Anin menegaskan, pelaksanaan PMHMETD diyakini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan Perseroan, sekaligus memperkuat kinerja operasional dan struktur permodalan.
“Selain itu, penambahan modal juga dapat meningkatkan kemampuan Perseroan untuk melakukan ekspansi usaha, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada laba Perseroan dan diharapkan dapat meningkatkan imbal hasil nilai investasi bagi seluruh pemegang saham Perseroan,” kata Anin.
Rasio Utang Turun
Anindya memaparkan, setelah aksi korporasi ini, rasio total pinjaman terhadap total aset turun dari 84,28% sebelum PMHMETD menjadi 67,9% setelah PMHMETD. Penurunan ini mencerminkan komposisi pendanaan berbasis ekuitas yang lebih besar, sehingga kontribusi kinerja aset terhadap pemegang saham turut meningkat.
“Selain itu, penurunan rasio ini memberikan fleksibilitas bagi yang lebih tinggi bagi perseroan untuk ekspansi dan perolehan modal kerja dari tambahan pendanaan eksternal apabila diperlukan,” jelas dia.
Rasio total pinjaman terhadap total ekuitas juga menyusut signifikan, dari 536,02% sebelum PMHMETD menjadi 211,57% setelah PMHMETD. Hal ini menunjukkan peningkatan porsi ekuitas dibandingkan kewajiban. “Rasio ini menjadi lebih baik karena menyeimbangkan struktur permodalan Perseroan antara ekuitas dan kewajiban,” ungkapnya.
Baca Juga
Bakrie & Brothers (BNBR) Resmi Akuisisi 100% Saham Tol Cimanggis-Cibitung Senilai Rp 3,56 Triliun
Namun demikian, Anin mengingatkan rencana PMHMETD akan berdampak pada pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru. Persentase kepemilikan saham berpotensi terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 33,33% setelah pelaksanaan HMETD.
Adapun pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, saham BNBR ditutup melambung sebanyak 32,92% menjadi Rp 214. Lompatan tersebut seiring keluarnya saham ini dari papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme full call auction (FCA).

