Maybank Indonesia (BNII) Catat Kenaikan Laba PATAMI 48,5% Jadi Rp 1,66 Triliun, Kualitas Aset dan Modal Kian Solid
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp 2,22 triliun di 2025, meningkat 38,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba setelah pajak dan kepentingan nonpengendali (PATAMI) naik 48,5% menjadi Rp 1,66 triliun, didukung oleh biaya provisi yang terus menurun dan pengelolaan biaya yang lebih baik.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi momentum bagi Maybank Indonesia untuk memperkuat profitabilitas serta fundamental Bank, sejalan dengan penerapan strategi prioritas di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.
“Di sepanjang 2025, kami berfokus untuk meningkatkan kualitas pendapatan yang mumpuni serta berkelanjutan pada sejumlah lini bisnis kami yang terus menunjukkan perkembangan. Kami juga secara disiplin mengelola biaya serta mengoptimalkan struktur pendanaan, dengan pengelolaan risiko yang kuat, sehingga profitabilitas kami meningkat, diiringi kualitas aset yang semakin sehat, serta neraca yang lebih resilien,” ujarnya dalam siaran pers dikutip Kamis (26/2/2026).
Lanjut Steffano, sebagai salah satu home market Maybank Group, Maybank Indonesia akan terus berjalan selaras dengan arah strategis grup, dengan fokus pada penyediaan solusi keuangan yang berorientasi pada nasabah, pertumbuhan bisnis yang disiplin, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, menyampaikan bahwa kinerja Bank pada tahun buku 2025 mencerminkan fundamental yang semakin kuat serta kemampuan Bank dalam menjalankan strategi secara konsisten, sehingga Maybank Indonesia siap untuk melanjutkan pertumbuhannya.
“Maybank Group baru-baru ini meluncurkan strategi ROAR30, yang merupakan rencana lima tahun paling ambisius dalam sejarah Grup. Strategi ini dibangun di atas momentum yang telah diciptakan melalui M25+ yang berfokus pada percepatan pertumbuhan, penguatan kapabilitas bisnis dan teknologi, serta keberlanjutan Maybank untuk generasi mendatang. Kami akan menjalankan ROAR30 dengan mengedepankan misi Humanising Financial Services, yang diwujudkan melalui penawaran berbasis nilai dan fokus pada tiga tujuan utama, yaitu menghadirkan pengalaman terbaik bagi nasabah, memberikan dampak positif bagi masyarakat, serta mendorong penguatan ekonomi riil. Dengan demikian, Maybank Indonesia dapat memanfaatkan keahlian dan kapabilitas Grup untuk pertumbuhan yang terarah serta sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan di home market kami," jelasnya.
Baca Juga
Produk Reksa Dana Baru Maybank Bidik Likuiditas hingga Pertumbuhan
Kembali ke kinerja, pendapatan bunga bersih (NII) meningkat 1,6% secara tahunan (year on year/YoY), didukung penerapan risk based pricing yang disiplin, serta bergesernya komposisi funding ke pendanaan yang lebih efisien. Marjin Bunga Bersih (NIM) tercatat sebesar 4,3% pada 2025. Pendapatan Nonbunga (NOII) juga tumbuh 8,1%, terutama ditopang oleh pendapatan Global Markets yang membaik menjadi sebesar Rp 441 miliar, serta pendapatan yang dikontribusikan dari asset recovery dan wealth management. Dengan demikian, bank mencatat gross operating income/GOI sebesar Rp9,55 triliun, naik 3,1% Y-o-Y.
Beban overhead terkendali dengan peningkatan hanya sebesar 2,4% dibandingkan 8,5% tahun sebelumnya. Hal ini tercapai berkat upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan biaya operasional Bank. Rasio efisiensi operasional (BOPO) tercatat sebesar 86,3%.
Laba operasional sebelum provisi (PPOP) tumbuh 4,8% YoY menjadi Rp 3,10 triliun. Beban pencadangan turun 28,7% dibandingkan tahun sebelumnya, sehubungan dengan pengelolaan kredit yang prudent serta impairment charges yang lebih rendah pada tahun 2025.
Pencapaian yang ditorehkan bank sepanjang 2025 menandai selesainya implementasi strategi transformasi tiga tahun M25+ Bank, yang berfokus pada penguatan fundamental bisnis, peningkatan kapabilitas organisasi, serta pencapaian pertumbuhan yang berkelanjutan. Melalui lima pilar bisnis yang dijalankan secara terintegrasi, strategi M25+ telah memperkuat struktur operasional dan model bisnis Bank, serta membangun landasan yang lebih solid untuk menjaga ketahanan dan mendukung penciptaan nilai jangka panjang.
Dari sisi kredit, pada Desember 2025, total kredit yang disalurkan bank tercatat sebesar Rp 123,64 triliun, turun 3,1% YoY sehubungan dengan rebalancing portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) yang mencatatkan penurunan sebesar 18,4% YoY. Namun demikian, kredit GB segmen Large Local Corporates (GB-LLC) mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,1% secara kuartalan. Adapun momentum pertumbuhan segmen GB-LLC ini akan terus menjadi fokus bank ke depan. Total aset tercatat sebesar Rp 193,72 triliun, turun 1,8% YoY, seiring dengan saldo kredit yang menurun.
Pembiayaan berkelanjutan KKUB tercatat sebesar Rp 21,23 triliun didukung pembiayaan transportasi ramah lingkungan yang meningkat 131% YoY dan pembiayaan energi terbarukan yang tumbuh 499% sepanjang tahun 2025.
Giro dan tabungan (CASA) tumbuh 6,3% YoY, didorong oleh pertumbuhan giro sebesar 12,0% seiring dengan naiknya jumlah transaksi keuangan melalui platform M2E (nasabah korporasi) sebesar 11,7% menjadi lebih dari 5 juta transaksi. Tabungan mencatat penurunan sebesar 3,3%, akan tetapi jumlah transaksi melalui platform M2U (nasabah ritel) meningkat 23,4% menjadi lebih dari 30 juta transaksi. Deposito berjangka turun 12,1% sejalan dengan fokus berkelanjutan Bank dalam mengoptimalkan struktur pendanaan yang lebih efisien. Rasio CASA meningkat menjadi 57,6% pada Desember 2025 dari 52,9% pada Desember 2024. Hingga Desember 2025, total simpanan nasabah tercatat sebesar Rp 116,19 triliun, turun 2,4% YoY.
Kualitas aset terus membaik dengan rasio non performing loan/NPL sebesar 2,2% (gross) dan 1,3% (net) pada 2025, membaik dibandingkan 2,7% (gross) dan 1,4% (net) pada 2024. Saldo NPL menurun 19,5% pada 2025. Sementara di sisi permodalan bank masih tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 27,3% dan rasio common equity tier 1/CET1 sebesar 26,1%.
Baca Juga
Maybank Group Punya Strategi Bisnis Baru, Bidik ROE 14% di 2030
Perbankan Syariah
Perbankan Syariah Maybank Indonesia mencatatkan kenaikan PBT sebesar 104,0% menjadi Rp 847 miliar pada 2025 didukung Bagi Hasil Untuk Pemilik Dana Investasi yang menurun sehingga mendorong Pendapatan Setelah Distribusi Bagi Hasil untuk naik 16,5%. Dengan other operating income yang meningkat sebesar 2,1%, maka Gross Operating Income Perbankan Syariah naik 13,9% dan beban provisi menurun.
Pembiayaan nonritel tumbuh 8,1% YoY, ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan segmen SME+ sebesar 27,7%, pembiayaan Retail SME (RSME) sebesar 6,6%, serta pembiayaan komersial (Business Banking) sebesar 3,2%. Pembiayaan ritel meningkat 13,5% Y-o-Y, didorong utamanya oleh pembiayaan kepemilikan properti yang tumbuh 16,5%. Total pembiayaan Syariah tercatat sebesar Rp 30,51 triliun, berkontribusi sebesar 28,1% terhadap total portofolio pembiayaan bank (bank only), sementara total aset Syariah mencapai 24,7% dari total aset bank (bank only).
CASA Syariah tumbuh 5,5% YoY, didukung oleh pertumbuhan giro sebesar 13,8%, sementara tabungan turun 1,8%. Deposito berjangka turun 29,9%, sejalan dengan strategi Bank dalam mengoptimalkan komposisi pendanaan yang efisien. Dengan demikian, rasio CASA Syariah meningkat menjadi 64,8% pada Desember 2025 dari 55,0% pada tahun sebelumnya. Total simpanan nasabah Syariah tercatat sebesar Rp32,95 triliun, turun 10,4% YoY. Kualitas aset Syariah tetap terjaga dengan rasio non performing financing/NPF sebesar 2,2% (gross) dan 1,4% (net), sementara rasio financing to deposit/FDR tercatat sebesar 91,9%.
Anak Perusahaan
Sementara itu, dari sisi anak usaha, perseroan memiliki PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance) dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance). Untuk total pembiayaan Maybank Finance meningkat 6,7% YoY menjadi Rp 8,48 triliun. Laba Sebelum Pajak (PBT) naik 2,1% YoY menjadi Rp 593 miliar. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio NPL sebesar 0,3% (gross) dan 0,1% (net) pada Desember 2025 dan 2024.
Sedangkan, total pembiayaan WOM Finance tumbuh 8,8% YoY menjadi Rp 6,75 triliun. PBT turun 46,9% YoY menjadi Rp175 miliar, seiring dengan peningkatan beban provisi. Rasio NPL WOM tercatat sebesar 2,2% (gross) dan 1,0% (net) pada Desember 2025.

