Buma Internasional (DOID) Serap Capex US$ 170 Juta Sepanjang 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) merealisasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 170 juta atau setara Rp 2,84 triliun sepanjang 2025.
Realisasi tersebut mencerminkan efisiensi, karena lebih rendah dibandingkan capex yang dianggarkan untuk setahun penuh. Direktur Buma Internasional Grup Iwan Fuad Salim mengatakan, perseroan sebelumnya mengalokasikan capex sekitar US$ 175 juta.
Mayoritas belanja modal dialokasikan untuk kebutuhan pertumbuhan serta perawatan (maintenance). “Jadi kami dapat kontrak baru dari klien di Indonesia terutama, itu kami harus spread spend dalam beberapa tahun. So itu bagian dari itu,” ujar Iwan di kawasan SCBD Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Baca Juga
Raih Kontrak Proyek Adaro, Anak Usaha DOID Targetkan Produksi 44 Juta Ton Batu Bara
Melihat kinerja tahun lalu, kontraktor pertambangan batu bara tersebut menekan penggunaan capex, seiring upaya penurunan biaya unit (unit cost). Iwan menambahkan, perusahaan melakukan berbagai perubahan sepanjang 2025, mulai dari organisasi, strategi procurement, interaksi kantor pusat dengan site, hingga koordinasi dengan tambang di Australia dan Amerika Serikat.
“Salah satu (perubahan) adalah kami punya tim yang subject matter expert di Buma Internasional Grup. Jadi ada expert asset, expert engineering, expert kontrak yang sekarang sudah kami rekrut dan sudah membawa banyak perubahan,” kata Iwan.
Efisiensi capex juga didorong oleh disiplin pengambilan keputusan manajemen dalam penggunaan anggaran belanja modal. “Misal kalau sebelumnya dari segi approval mungkin tiga step, tahun lalu kita tambah. Jadi lebih solid bahwa memang harus dibeli dan enggak bisa ditunda,” imbuhnya.
Baca Juga
Rugi Bersih Buma (DOID) Membengkak Jadi US$ 74,2 Juta di Semester I-2025 , Bagaimana Semeter II Ini?
Manajemen menjelaskan, sumber pendanaan belanja modal pada 2025 didominasi perbankan sekitar 40%, obligasi 10–15%, dan sisanya dari lembaga pembiayaan (leasing). Saat ini, Buma masih bermitra dengan bank besar seperti Mandiri, BNI, BCA, hingga Bank Syariah Indonesia.
Untuk tahun ini, manajemen memperkirakan komposisi pendanaan capex masih serupa, dengan tetap mempertimbangkan berbagai opsi pendanaan yang tersedia.
“Kami beruntung banyak pilihan dari bank, leasing company, obligasi tadinya ada dolar tetapi sudah kami lunasi obligasi pada November 2025, jadi banyak option lah,” terangnya.

