Ekonom: Peringatan Moody’s Seperti “Copy and Paste” dari Tujuh Desakan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyebut peringatan yang disampaikan Moody’s memiliki kemiripan substansi dengan tujuh desakan ekonomi yang tergabung dalam Aliansi Ekonomi Indonesia (AEI) yang telah disuarakan beberapa waktu lalu.
“Kalau kita lihat misalnya, concern dari Moody's ini seolah-olah seperti cut and paste, copy and paste dari tujuh desakan ekonomi yang tergabung dalam aliansi ekonomi Indonesia,” kata Wijayanto dalam acara Prospek dan Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s secara daring, Rabu, (18/2/2026).
Ia menambahkan, dari tujuh desakan tersebut, sebagian besar memiliki irisan langsung dengan sorotan lembaga pemeringkat global. “Coba dilihat, ada tujuh desakan, tiga dari tujuh desakan itu betul-betul jadi concern dari Moody's seperti cut and paste. Artinya validitas concern para ekonomi kita itu sebenarnya pantas untuk dijadikan acuan juga oleh pemerintah,” lanjutnya.
Ia menilai concern yang disampaikan lembaga internasional seperti MSCI dan Moody’s sejatinya bukan hal baru. Menurut dia, berbagai catatan tersebut telah lama disuarakan oleh para ekonom dalam negeri, namun belum memperoleh respons memadai dari pemerintah.
Baca Juga
Pasar Modal Indonesia Dinilai ‘Sakit', Rektor Paramadina Soroti Sensitivitas dan Tata Kelola
“Nah, sebenarnya yang menjadi concern MSCI, apalagi yang menjadi concern Moodys, itu sudah dinarasikan, sudah disampaikan oleh para ekonomi kita, sejak 1 tahun, 2 tahun, bahkan 3 tahun yang lalu. Sudah dinarasikan. Tetapi sayangnya tidak mendapatkan respon dari pemerintah,” ujar Wijayanto.
Wijayanto mengatakan respons pemerintah justru cenderung lebih cepat ketika kritik datang dari institusi asing. Padahal, pandangan para ekonom dalam negeri telah lebih dulu mengingatkan berbagai risiko struktural yang kini menjadi sorotan global.
“Jadi kalau menarasikan institusi asing, responnya itu luar biasa. Nah, menurut saya ini satu hal yang positif, tetapi pembelajarannya adalah sebelum diingatkan oleh institusi asing, ada baiknya mendengar para ekonom kita yang sejak jauh hari sudah mulai menyampaikan para pandangannya,” katanya.

