Kinerja Tegerus, Proyeksi Kinerja Keuangan dan Saham ITMG Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat penurunan kinerja keuangan hingga kuartal III-2025 akibat pelemahan rata-rata harga jual batu bara. Laba bersih anjlok menjadi US$ 130,58 juta atau turun 52,16% secara tahunan (yoy). Pendapatan juga turun 17,4% menjadi US$ 1,37 miliar selama sembilan bulan pertama 2025.
Sebaliknya produksi batu bara ITMG catatkan kenaikan 2,7% (yoy) menjadi 15,4 juta ton, namun tekanan harga batu bara global dan penurunan margin membuat profitabilitas ikut tertekan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan menilai bahwa penurunan harga jual rata-rata (ASP) bersamaan dengan lemahnya permintaan batu bara global membuat kinerja keuangan ITMG tahun 2026. “Meskipun disiplin biaya dan stabilitas operasional masih membantu, tekanan ASP tetap menjadi hambatan utama,” ujarnya.
Baca Juga
Dipicu Penurunan Harga Batu Bara, Pendapatan ITMG Tertekan Jadi US$ 1,36 Miliar
Meski kinerja turun, Mirae Asset memberikan pandangan positif terhadap inisiatif ITMG yang fokus menjaga nilai bagi pemegang saham melalui tiga langkah strategis, seperti dividen interim Rp 738 per saham atau total US$ 50 juta, buy back saham dengan anggaran Rp 2,49 triliun atau sekitar US$ 156 juta, dan, manajemen neraca disiplin dengan kas kuat US$ 1,2 miliar dan leverage minimal.
“Inisiatif ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan, meskipun pasar batu bara lesu dan margin tertekan,” tambah Farhan.
Namun demikian berlanjutnya penurunan harga batu bara mendorong Mirae Asset Sekuritas merevisi turun target kinerja keuangan ITMG tahun 2025 dan 2026 menjadi US$ 1,82 miliar, turun masing-masing 6,6% (yoy) dan 9,1% (yoy). EBITDA diperkirakan melemah menjadi US$ 285 juta dan US$ 270 juta, turun 23,6% (yoy) dan 30,7% (yoy).
Laba bersih diprediksi terpangkas signifikan menjadi US$ 173 juta pada 2025 dan US$ 164 juta pada 2026, masing-masing anjlok 38% (yoy) dan 44,8% (yoy). “Angka ini mencerminkan tekanan ASP berkepanjangan dan pelemahan leverage harga,” jelas Farhan.
Baca Juga
BUMI dan BRMS Bawa Reli Saham Grup Bakrie hingga Peluang Revaluasi Harga
Sedangkan rencana perseroan diversifikasi bisnis melalui akuisisi 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) senilai Rp 256 miliar atau sekitar US$ 15,7 juta bisa menjadi sentimen positif. Langkah ini memperluas eksposur perusahaan ke sektor nikel yang menjadi bahan baku kendaraan listrik (EV), sekaligus sejalan dengan peta jalan dekarbonisasi Banpu Group.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold saham ITMG dengan target harga direvisi turun menjadi Rp 21.500. Target tersebut mencerminkan P/E 2026 sebesar 9x, sedikit di atas rata-rata tiga tahun terakhir.

