Kinerja Mulai Pulih, Laba Bersih Samudera Indonesia (SMDR) Naik 3%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) membukukan laba bersih sebesar US$ 64,07 juta atau tumbuh 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 61,92 juta. Peningkatan ini mencerminkan tanda pemulihan kinerja perusahaan pelayaran tersebut di tengah dinamika perdagangan global.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan jasa SMDR tercatat sebesar US$ 571,56 juta hingga kuartal III-2025. Angka ini turun sekitar 3,5% dari US$ 592,50 juta pada periode yang sama tahun lalu. Namun, di sisi lain, biaya jasa justru meningkat menjadi US$ 463,81 juta dari US$ 420,31 juta pada 2024. Kondisi tersebut membuat laba bruto sedikit tertekan menjadi US$ 107,74 juta dibandingkan US$ 109,18 juta secara tahunan.
Dari sisi keuangan, posisi kas dan setara kas tercatat sebesar US$ 329,15 juta, relatif stabil dibandingkan US$ 333,18 juta pada akhir September 2024. Total aset juga mengalami peningkatan 6,8% menjadi US$ 1,38 miliar dari US$ 1,29 miliar pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama SMDR Bani Maulana Mulia mengatakan kinerja perseroan dalam lima hingga enam tahun terakhir menunjukkan perjalanan yang berfluktuasi, seiring naik-turunnya pendapatan dan laba di industri pelayaran global. Bani menjelaskan, meskipun pendapatan belum kembali ke level tertinggi seperti tahun 2022, tren perbaikan sudah mulai terlihat sejak 2023.
Baca Juga
Samudera Indonesia (SMDR) Bagi Dividen Rp 180,2 Miliar, Simak Jumlah Final per Saham
“Namun demikian bisa dilihat trennya dari 2023 ke 2024, tahun 2025 ini sudah mulai kembali naik ke lebih tinggi daripada tahun lalu. Begitu juga bisa dilihat tren di laba bersih dari 2023 ke 2024 lebih rendah, tahun 2025 sekarang bisa sedikit lebih tinggi,” kata Bani dalam paparan publik SMDR secara daring, Kamis (30/10/2025).
Ia menambahkan, perbaikan tersebut menandakan arah kinerja perusahaan mulai berbalik positif setelah beberapa tahun mengalami tekanan. Menurutnya, tren pemulihan ini juga tak lepas dari dinamika perdagangan global yang mulai menunjukkan kestabilan.
“Artinya ada tren membalikkan arah dari kinerja, atau juga mungkin dipengaruhi oleh tingkat dinamika yang ada di pasar perdagangan global,” tutur Bani.

