BBNI Catat Laba Bersih Rp 15,11 Triliun, Bagaimana dengan Prospek Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat laba bersih sebesar Rp 5,0 triliun pada kuartal III-2025. Perolehan laba tersebut menjadikan total laba bersih hingga sembilan bulan pertama 2025 mencapai Rp 15,11 triliun atau turun 7% secara tahunan.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa pencapaian tersebut masih sejalan dengan target internal dan sedikit di bawah konsensus analis. Hal ini mendorong sekuritas tersebut mempetahankan rekomendasi “Buy” saham BBNI dengan target harga Rp 4.800. Target ini juga merefleksikan metode GGM yang mencerminkan PBV wajar sebesar 1,1x.
Baca Juga
BNI (BBNI) Cetak Laba Rp 15,12 Triliun di Kuartal III 2025, Kredit Tumbuh ke Rp 812,2 Triliun
Perolehan laba tersebut telah mencerminkan 74% dari target BRI Danareksa Sekuritas dengan total Rp 20,36 triliun dan setara dengan 73% dari target laba bersih konsensusn analis Rp 20,70 triliun.
Estimasi Kinerja BBNI
Riset tersebut menyebutkan bahwa kinerja BBNI hingga September 2025 menunjukkan tekanan pada margin bunga bersih (NIM) hingga turun ke level 3,7% dari sebelumnya 4,4% akibat penurunan yield aset dan kenaikan biaya dana. Di sisi lain, beban operasional meningkat 4% secara tahunan, sementara biaya pencadangan naik 14% yoy sehingga cost of credit (CoC) berada di sekitar 1% atua masih sesuai panduan perseroan.
Dari sisi likuiditas, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, BBNI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 21% yoy, didorong penempatan dana sebesar Rp 55 triliun, sementara pertumbuhan kredit mencapai 10% yoy. Kondisi tersebut menurunkan Loan to Deposit Ratio (LDR) menjadi 86,9%, menunjukkan ruang likuiditas yang tetap longgar.
Baca Juga
Pada kuartal III-2025, laba bersih BBNI meningkat 7% secara kuartalan menjadi Rp 5,0 triliun, meski masih turun 11% yoy. NIM turun 9 bps menjadi 3,6%, sementara beban operasional naik 12% qoq akibat pembukuan awal remunerasi pegawai. Pendapatan operasional lain tercatat tumbuh kuat 28% qoq, ditopang aktivitas consumer maupun business banking.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) naik menjadi 2,0% dengan rasio cakupan turun ke 223%, level terendah sejak 2021 namun masih dalam batas kecukupan. Di sisi lain manajemen tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit 8–10% dan CoC sekitar 1% untuk tahun 2025. Namun panduan NIM direvisi turun menjadi sekitar 3,7%, seiring tekanan yield kredit di tengah penurunan suku bunga dan persaingan pasar yang ketat.

