TINS Siap Lepas Landas Didukung Reformasi Tambang dan Harga Global, Begini Target Sahamnya
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) bersiap memasuki fase pertumbuhan baru dengan peluang menjadi pemasok timah terbesar kedua di dunia, seiring langkah pemerintah menghentikan praktik penambangan timah ilegal di dalam negeri. Perseroan juga akan diuntungkan atas tetap tingginya harga timah di pasar global.
Analis Samuel Sekuritas Fadlan Banny dan Juan Harahap dalam riset yang diterbitkan pekan lalu menyebutkan bahwa kebijakan tersebut membuka jalan bagi peningkatan produksi signifikan, dari 14 ribu ton pada 2025 menjadi sekitar 80 ribu ton dalam jangka menengah atau setara dengan level produksi tahun 2019.
Baca Juga
Nur Adi Kuncoro Dicopot dari Posisi Direktur Operasi dan Produksi Timah (TINS)
Dengan peluang pertumbuhan pesat tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham TINS dengan target harga Rp 5.000. Saat ini saham TINS ditransaskikan dengan PE tahun 2026 sekitar 8,5 kali atau terdiskon 48%, dibandingkan valuasi rata-rata sektornya.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang lompatan laba per saham hingga tiga digit tahun depan. Target harga tersebut juga menggambarkan TINS sebagai produsen timah terbesar kelima di dunia dengan kontribusi sekitar 5% terhadap pasokan global dan menguasai 40% pangsa pasar domestik.
Sumber: Samuel Sekuritas
Samuel Sekuritas menambahkan bahwa meski volume TINS bakal naik tajam, harga timah global diperkirakan tetap tinggi dipicu atas gangguan pasokan dari negara produsen utama lain, seperti Myanmar dan Tiongkok. “Kombinasi pasokan yang ketat dan permintaan kuat, terutama dari Tiongkok, berpotensi mendorong kenaikan harga dan memperluas margin laba TINS dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan laba mencapai 126% pada 2026–2027,” tulisnya dalam riset tersebut.
Selain ditopang peningkatan volume produksi dan permintaan global, Samuel Sekuritas menyebutkan, perubahan struktural ikut menjadi motor utama kebangkitan TINS. Hal ini didukung upaya agresif pemerintah untuk memperkuat penegakan hukum terhadap tambang ilegal dan telah mentransfer aset tambang senilai Rp 6–7 triliun berupa blok timah dan enam smelter hasil sitaan kepada TINS.
Baca Juga
Ditopang Sejumlah Faktor Ini, Laba Timah (TINS) bisa Melesat 206% di 2026
Guna memastikan reformasi berjalan efektif, dia mengatakan, pemerintah telah menunjuk Restu Widiyantoro, mantan perwira TNI, sebagai direktur utama guna memperkuat tata kelola perusahaan sejak Mei 2025. ”Dengan kepemimpinan baru dan dukungan aset tambahan, TINS menargetkan produksi 30 ribu ton pada 2025 atau melesat 58,7% secara tahunan, sebagai langkah pemulihan pasca pelemahan kinerja di paruh pertama 2025 akibat penghentian ekspor sementara,” tulisnya.
TINS juga mendapatkan katalis baru dari rencana pengembangan mineral tanah jarang (Rare Earth Elements/REE). Kini, perusahaan tengah menjalankan proyek percontohan REE di Tanjung Ular, Bangka Barat, yang berpotensi membuka sumber pendapatan tambahan di masa depan.
Sumber: Samuel Sekuritas
“Dengan fondasi reformasi, dukungan pemerintah, dan prospek harga komoditas yang solid, TINS berpotensi menjadi salah satu motor utama kebangkitan sektor tambang Indonesia,” terangnya.
Terkait kinerja keuangan, Samuel Sekuritas memperkirakan kenaikan laba bersih TINS menjadi Rp 909 miliar tahun ini dan diharapkan melesat menjadi Rp 2,51 triliun pada 2026. Begitu juga dengan pendapatan diprediksi naik dari perkiraan tahun ini Rp 8,94 triliun emnjadi Rp 20,16 triliun tahun depan.

