Robert Kiyosaki Peringatkan Risiko 401(k), Dorong Bitcoin sebagai Aset Lindung Nilai
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) bertahan mendekati US$ 118.000 pada awal pekan pagi ini waktu Asia, setelah sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa di US$ 124.533 pada awal pekan lalu. Meskipun turun 0,70% selama seminggu, mata uang kripto acuan ini terus mengungguli emas, yang telah merosot 1,83% menjadi sekitar US$ 3.335 per ons. Perbedaan kinerja ini menimbulkan pertanyaan, apakah BTC menyalip emas sebagai aset safe haven pilihan dunia?.
Robert Kiyosaki, penulis buku terlaris Rich Dad Poor Dad, kembali memberikan pendapatnya. Menulis di X, Kiyosaki memperingatkan bahwa sinyal kejatuhan pasar saham AS sedang memburuk, membuat portofolio tradisional rentan terutama bagi generasi baby boomer yang bergantung pada program pensiun 401(k). Program 401(k) adalah rencana tabungan pensiun berbasis tempat kerja yang umum digunakan di Amerika Serikat.
Ia menempatkan emas, perak, dan Bitcoin dalam kategori unik yang disebutnya "uang riil", aset yang mampu menahan inflasi, penurunan nilai mata uang, dan guncangan sistemik. Meskipun ia menghargai logam mulia, antusiasmenya terhadap BTC tak terbantahkan. Ia menggambarkan BTC sebagai "uang rakyat", yang menyoroti kelangkaan digital, portabilitas, dan independensinya dari kendali pemerintah.
Secara historis, emas telah menjadi lindung nilai terbaik terhadap krisis. Namun, Kiyosaki berpendapat bahwa BTC lebih cocok untuk lingkungan keuangan saat ini. Dengan mata uang fiat yang tertekan dan bank sentral yang memperluas neraca, ia yakin BTC dapat melonjak hingga $1 juta jika kepercayaan terhadap uang tradisional semakin terkikis.
Baca Juga
Robert Kiyosaki Sebut Bitcoin dan Pasar Global Berpotensi Turun, Apa Sebabnya?
Melansir Cryptonews, Senin (18/8/2025) Kiyosaki bahkan membandingkan kinerja Bitcoin dengan kariernya di bidang real estat, mencatat betapa jauh lebih mudah menghasilkan jutaan dari BTC dibandingkan dengan bertahun-tahun menanggung risiko dan upaya di pasar properti. Ia menyebut BTC sebagai "desain aset yang jenius", tetapi menambahkan catatan yang menyadarkan: jika BTC dapat menciptakan kekayaan begitu cepat, mengapa begitu banyak orang masih miskin?.
Stock market crash indicators warning of massive crash in stocks.
— Robert Kiyosaki (@theRealKiyosaki) August 11, 2025
Good news for gold, silver, and Bitcoin owners.
Bad news for Baby Boomers with 401 k.
Take care.
Strategi lindung nilai yang lebih luas mencakup emas, perak, minyak, ternak, dan kini Bitcoin. Ia merujuk pada penurunan peringkat obligasi AS oleh Moody's dan meningkatnya permintaan emas di Asia sebagai bukti bahwa aset safe haven tradisional sedang tertekan. Menurutnya, mereka yang bertahan dengan aset konvensional berisiko mengalami kerugian terbesar ketika pasar berbalik arah.
Baca Juga
Harga Bitcoin Sempat Tembus US$ 124.000, Pasar Kripto Masuki Babak Baru
Harga Bitcoin (BTC) pada Senin (18/8/2025) tercatat sebesar US$ 117.881,43 per koin, melemah 0,93% dalam sepekan terakhir, meski masih menunjukkan penguatan tipis 0,29% dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Senin (18/8/2025) pagi waktu Asia, kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai US$ 2,34 triliun dengan volume perdagangan harian sebesar US$ 46,95 miliar, turun 2,92% dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, tingkat dominasi volume terhadap kapitalisasi pasar berada di kisaran 1,94%.
Total suplai Bitcoin yang telah beredar mencapai 19,9 juta BTC dari maksimum suplai 21 juta BTC. Dengan demikian, pasokan yang tersisa untuk ditambang semakin menipis, menegaskan kelangkaan aset kripto terbesar dunia ini.
Dalam perdagangan sepekan terakhir, Bitcoin sempat menembus level tertinggi di kisaran US$ 124.000 pada 14 Agustus sebelum terkoreksi ke bawah US$ 118.000. Saat ini, harga masih berkonsolidasi di zona US$ 117.000–US$ 118.000, dengan tren pasar menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat.
Analis menyebut, arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan akan ditentukan oleh kemampuan aset digital ini menembus kembali resistance di atas US$ 123.000 atau justru melemah di bawah support US$ 116.000.

