Meski Harga Jual Batu Bara Turun Semester I-2025, Bumi Resoruces (BUMI) Cetak Laba US$ 52,1 Juta
JAKARTA, investortrust.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan laba bersih tahun berjalan senilai US$ 52,1 juta pada semester I-2025. Angka tersebut menunjukkan penurunan dari periode sama tahun sebelumnya US$ 134,9 juta. Penurunan dipicu atas pelemahan rata-rata harga jual batu bara sebanyak 19% menjadi US$ 61,3 per ton.
Manajemen BUMI dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, menyebutkan bahwa penurunan rata-rata harga jual batu bara mencapai 19% sepanjang semester I-2025 picu penurunan pendapatan perseroan sebanyak 20,4% dari US$ 2,88 miliar menjadi US$ 2,30 miliar.
Baca Juga
Perseroan juga mencatatkan penurunan laba bruto sebanyak 14,3% menjadi US$ 222,7 juta, laba usaha melemah 19,8% menjadi US$ 114,8 juta, dan margin usaha berhasil dipertahanakn 5%. Sejalan dengan penurunan tersebut, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melemah 76% dari US$ 84,9 juta menjadi US$ 20,4 juta.
Secara operasional, BUMI mengungkap overburden removal turun sebanyak 14% menjadi 290,5 juta bcm pada semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 337,6 juta bcm. Total batu bara yang ditambang mencapai 35,9 juta ton, penjualan batu bara mencapai 34,8 juta ton, dan inventori mencapai 2,7 juta ton.
Pencapaian semester satu tersebut sudah sesuai target, dibandingkan dengan pedoman kinerja operasional tahun 2025. Manajemen sebelumnya mematok target volume penjualan batu bara berkisar 76-78 juta ton. Rata-rata harga perkiraan US$ 60-62 per ton dan rata-rata biaya produksi diestimasi mencapai US$ 44-46 per ton.
Baca Juga
Bumi Resources (BUMI) Targetkan Produksi 81 Juta Ton pada 2025, Proyeksi Pendapatan US$ 5,05 Miliar
Sedangkan penyumbang terbesar volume penjualan batu bara berasal dari tambang KPC mencapai 24,6 juta ton sepanjang semester I-2025 dan sisanya dari tambang Arutmin sebanyak 10,2 juta ton.
Sebelumnya, Analis Sucor Sekuritas Yugo Ahmad Gifari dalam riset teraikrnya menyebutkan bahwa Bumi Resources (BUMI) mendiversifikasi bisnis di luar bisni batu bara sambil mempertahankan produksi batu bara tetap tangguh menjadikan prospek sahamnya menarik. Hal ini mendorong Sucor Sekuritas merekomendasikan beli saham emiten grup Bakrie ini.
Hal ini memperkuat Sucor Sekuritas untuk pertahankan rekomendasi beli saham BUMI dengan target harga Rp 160 saham BUMI. Saat ini, BUMI tengah memasuki fase transformasi multi-tahun dengan strategi mendiversifikasi di luar batubara termal sambil tetap mempertahankan produksi batubara yang stabil dari dua tambang andalannya Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia (AI).
Baca Juga
Wall Street Ambles Dipicu Data Tenaga Kerja AS dan Tarif Trump, Dow Anjlok Hampir 550 Poin
“Perusahaan menargetkan menghasilkan 50% EBITDA dari segmen non-batubara pada 2030 didukung potensi akuisisi sektor emas dan alumina, serta pengembangan jangka panjang di bidang gasifikasi batubara dan tembaga,” tulisnya.
Selain diversifikasi, dia mengatakan, produsen batubara terbesar di Indonesia ini diperkirakan mampu untuk mempertahankan produksi stabil sebanyak 80 juta ton per tahun. Volume ini bisa dicapai dengan dukungan cadangan besar sebanyak 940 juta ton dan sumber daya sebesar 4,5 miliar ton.
Pasca restrukturisasi utang, BUMI memiliki struktur modal yang sehat (DER 0,5x) yang memberikan ruang memadai untuk mendanai pertumbuhan anorganik melalui utang. Dengan belanja modal pemeliharaan minimum US$75–80 juta per tahun, BUMI berada dalam posisi baik untuk menjalankan strategi diversifikasinya sambil meningkatkan pengembalian bagi pemegang saham.

