GIIAS 2025 Digelar, Sejumlah Saham Otomotif Ini Layak Dipertimbangkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai penyelenggaraan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 berpotensi menjadi katalis penting bagi kinerja saham otomotif di tengah tren pemulihan ekonomi nasional.
Pameran otomotif terbesar di Indonesia tersebut kembali digelar pada 24 Juli hingga 3 Agustus 2025. Sejak pertama kali diadakan pada 1986, GIIAS telah menjadi barometer utama industri otomotif nasional.
Baca Juga
GIIAS 2025 Siap Digelar, Hadirkan Fasilitas Lengkap dan Program Edukatif
“GIIAS akan menjadi momen penting untuk melihat sejauh mana sektor otomotif bisa mencatatkan pemulihan. Kinerja sektor ini sejauh ini memang relatif underwhelming, saya akui,” ujar Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, di Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Menurut Nafan, performa saham-saham otomotif tahun ini masih tertahan akibat tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang berdampak pada daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah.
Namun, tren pelonggaran kebijakan moneter dengan pemangkasan suku bunga BI sebanyak tiga kali sepanjang 2025 memberi harapan baru. Diharapkan, pemulihan daya beli masyarakat akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mendekati 5%.
Baca Juga
Mirae Asset Targetkan 1 Juta Nasabah, Resmikan Community Center Terbesar di Pluit
“Kita berharap yang terbaik. IHSG sudah menunjukkan penguatan melalui rally, dan sektor otomotif saat ini menunjukkan tanda-tanda bullish consolidation,” kata Nafan.
Adapun, pergerakan saham otomotif hingga penutupan sesi II Burs Efek Indonesia (BEI), Rabu (23/7/2025), menunjukkan tren positif, yaitu saham ASII naik 5,54% ke Rp 4.950, AUTO menguat 0,47% ke Rp 2.150, SMSM naik 0,26% ke Rp 1.905, dan IMAS melesat hingga auto reject atas (ARA) 25% ke Rp 1.100.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor mulai merespons positif peluang pemulihan sektor otomotif, seiring dengan prospek peningkatan konsumsi domestik dan daya beli pasca penurunan suku bunga.

