PT Timah (TINS) Anggarkan Capex Rp 469 Miliar di 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 469 miliar pada 2025. Jumlah ini terhitung lebih rendah dibandingkan anggaran yang disiapkan tahun lalu namun masih lebih besar dari realisasi 2024.
“Tahun ini kami merencanakan capex Rp 469 miliar, mayoritas untuk peremajaan peralatan produksi karena target kami tahun ini adalah peningkatan volume produksi,” ujar Direktur Keuangan Timah Fina Eliani, menjawab Investortrust.id, baru-baru ini.
Manajemen menjelaskan, capex untuk peremajaan alat produksi perseroan disiapkan sekitar 60-70% capex atau senilai Rp 281,4 miliar sampai Rp 328,3 miliar. Sedangkan sisa anggaran belanja modal setahun penuh ini akan dialokasikan pada kegiatan eksplorasi dan pengembangan usaha.
Namun Fina belum bisa menyebutkan realisasi penggunaan capex pada periode awal 2025 yang sudah berjalan. “Saya harus cek lagi ya karena sebenarnya persetujuan pemegang saham untuk RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan) baru kami terima pada Januari. Jadi memang baru berjalan empat bulan,” jelasnya.
Baca Juga
Timah (TINS) Bagi Dividen Rp 474,65 Miliar, Segini per Saham
Sumber investasi kebutuhan belanja modal perusahaan pun akan dikombinasi dari kas operasional dan pendanaan pihak ketiga yakni bank. Namun manajemen juga belum bisa memastikan porsi kombinasi sumber investasi tahun ini.
“Nanti tergantung kebutuhan tetapi kami prioritaskan dengan kas operasional terlebih dahulu,” tegas Fina.
Tahun lalu, PT Timah menganggarkan belanja modal sekitar Rp 700 miliar namun realisasinya sampai akhir 2024 baru terserap Rp 326 miliar. Manajemen mengaku, rendahnya serapan capex tahun lalu dilatarbelakangi pengetatan kendali investasi demi menjaga arus kas.
“Karena tahun sebelumnya kami merugi. Oleh karena itu untuk meningkatkan kinerja keuangan, kami selektif ke investasi yang betul-betul produktif,” jelas Fina.
Tingkat serapan tahun lalu juga menjadi alasan perseroan menetapkan capex di kisaran Rp 469 miliar tahun ini. Jumlah ini telah disesuaikan dengan fokus peningkatan volume produksi, serta kemungkinan realisasi yang ditarget tercapai.

