Bukit Asam (PTBA) Tetapkan Dividen Rp 3,8 Triliun, Pengendali MIND ID Raup Segini
JAKARTA, investortrust.id – PT Buki Asam Tbk (PTBA) membagikan dividen tahun buku 2024 senilai Rp 3,8 triliun atau setara dengan Rp 332 per saham. Nilai tersebut merefleksikan rasio dividen 75% dan imbal hasil (yield) dividen setara dengan 11%.
Stockbit Sekuritas dalam komentar, Kamis (12/6/2025) menyebutkan bahwa rapat umum pemegang saham tahunan PTBA telah menetapkan dividen Rp 332 per saham, sehingga yield setara dengan 11% dengan asumsi harga intraday Rp 2.970.
Baca Juga
Antam (ANTM) kembali Tetapkan Rasio Dividen 100%, Nilai per Saham Segini
Berdasarkan data pembagian dividen perseroan dalam tiga tahun terakhir, nilai dividen tahun buku 2024 mencapai Rp 330 per saham turun dari realisasi tahun buku 2023 mencapai Rp 4,57 triliun atau setara dengan Rp 397,71 per saham. Angka tersebut juga jauh dari realisasi dividen tahun buku 2022 Rp 12,56 triliun atau Rp 1.094,05 per saham.
Sedangkan MIND ID selaku pengendali dengan kepemilikan 65,93% saham akan memperoleh dividen dari PTBA mencapai Rp 2,50 triliun. Sebelumnya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga telah menetapkan dividen total Rp 3,6 triliun, senilai Rp 2,37 triliun masuk ke MIND ID selaku pengendali.
MIND ID sebelumnya telah menyetorkan dividen tahun buku 2021 senilai Rp 20,1 triliun ke Danantara. MIND ID beranggotakan, Antam, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), PT Inalum, PT Freeport Indonesia, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Hingga kuartal I-2025, Buki Asam (PTBA) berhasil mempertahankan peningkatan pendapatan menjadi Rp 9,95 triliun pada kuartal I-2025, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 9,40 triliun. Namun seiring dengan pertumbuhan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi, dibandingkan pertumbuhan pendapatan, laba bruto PTBA tergerus dari Rp 1,41 triliun menajdi Rp 1,04 triliun.
Baca Juga
Bahlil Ancam Cabut Sebagian Izin Usaha PTBA Jika Tak Jalankan Hilirisasi Batu Bara Jadi DME
Laba usaha juga turun dari Rp 948,18 miliar menjadi Rp 442,80 miliar. Penurunan tersebut berimplikiasi terhadap laba periode berjalan yang tergerus dari Rp 802,78 miliar menjadi Rp 396,77 miliar. Laba yang lebih rendah tersebut juga dipicu atas berkurangnnya kontribusi entitas asosiasi dan ventura bersama dari semula Rp 109,03 miliar menjadi hanya Rp 92,81 miliar.
Sedangkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tergerus dari Rp 790,94 miliar menjadi Rp 391,47 miliar. Laba per saham dasar turun dari Rp 69 menjadi Rp 34 per saham.

