Penambang Bitcoin Kabur dari Asia Tenggara Termasuk Indonesia, Apa Alasannya?
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan penambangan (mining) Bitcoin dikabarkan banyak yang mengalokasikan peralatannya dari Asia Tenggara, termasuk yang berada di Indonesia. Ketentuan ini memicu perlombaan logistik senilai ratusan juta dolar untuk menghindari beban tarif Presiden AS Donald Trump sebelum tenggat 9 April 2025.
Kebijakan perdagangan baru Trump merupakan ancaman serius bagi industri pertambangan Bitcoin AS, karena China pemasok peralatan pertambangan terbesar di dunia sekarang menghadapi tarif ekspor besar. Hal ini memberikan tekanan pada profitabilitas operasi penambangan Amerika. Pengumuman Trump mengejutkan pasar keuangan, dengan sektor kripto bereaksi dengan cepat dan negatif.
"Waktu itu, selama sisa hidup saya, akan benar-benar terukir dalam ingatan saya," kata Christopher Berschel, presiden Sealion Cargo, sebuah bisnis pengiriman barang asal Kanada dilansir dari MSN, Senin (21/4/2025).
Presiden AS Donald Trump baru saja meluncurkan rencana tarif timbal balik yang sangat menghukum, dengan mengenakan bea masuk sebesar 36%, 32%, dan 24% pada Thailand, Indonesia, dan Malaysia.
Baca Juga
Mau Mining Kripto? Ini 3 Koin yang Dinilai Bagus untuk Ditambang di 2024
Ketiganya telah menjadi pusat perakitan dan distribusi mesin penambangan kripto. Pembeli yang berbasis di AS dari apa yang disebut "rig" ini menghadapi pukulan finansial yang besar, kecuali Berschel dan krunya dapat mengeluarkannya sebelum batas waktu 9 April.
Dalam hiruk-pikuk yang terjadi, Sealion membantu menyewa lima pesawat sambil mengawasi puluhan truk dan tongkang untuk mengirim peralatan senilai US$ 330 juta dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia ke AS.
"Dengan potensi tarif lebih dari US$ 80 juta yang dipertaruhkan, setiap penerbangan, truk, dan palet yang kami sentuh punya satu misi, mengalahkan batas waktu tarif," kata Berschel.
Sementara mengutip Bloomberg, CEO perusahaan pialang pertambangan Synteq Digital, Taras Kulik mengatakan bahwa perusahaannya bekerja keras untuk mempercepat pengiriman ribuan unit pertambangan dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
"Dalam beberapa tahun terakhir, AS telah menjadi tujuan utama - bukan hanya karena biaya energi, tetapi juga karena stabilitas hukum, peraturan, dan ekonomi," kata CEO CodeStream, Gadi Glikberg.
Namun, ia menambahkan, tarif yang baru diberlakukan ini tidak mungkin menyebabkan eksodus industri, tetapi dapat memperlambat atau mengalihkan rencana ekspansi di masa depan, karena para penambang menilai kembali kelayakan jangka panjang untuk meningkatkan operasi di AS.
Untuk menghindari tarif yang tinggi, Bitmain Technologies, pembuat peralatan pertambangan terbesar di dunia, mengumumkan pada bulan Desember rencana untuk membuka pabrik manufaktur di AS. Produsen besar lainnya, MicroBT, menandatangani perjanjian pembelian dengan Riot Blockchain, salah satu penambang terbesar di AS, untuk meningkatkan kehadiran manufakturnya di Amerika.
Adapun Avolato Group telah menjadi maskapai penerbangan pertama yang menambang Bitcoin di pesawat terbang yang berpotensi menandai era baru penambangan dengan membuat industri ini lebih beragam dan terdesentralisasi.
Kemudian, pada tanggal 9 April, Trump mengumumkan jeda 90 hari pada tarif yang lebih tinggi yang akan diberlakukan pada puluhan mitra dagang, membuat seluruh "episode" ini agak sia-sia. Bahkan para penambang dikabarkan menghabiskan empat kali lipat dari biaya yang biasanya mereka keluarkan untuk angkutan udara dan mungkin dua puluh kali lipat biaya pengiriman laut.
Baca Juga
Mining BTC Makin Sulit, JP Morgan Sebut Biaya Produksi Bitcoin Bisa Naik
Pertambangan Bitcoin bukan hanya tentang menciptakan mata uang digital baru. Lebih dari itu, ini tentang menjadi bagian dari revolusi teknologi dan finansial yang sedang berlangsung. Bitcoin, sebagai mata uang digital pertama dan paling populer, telah membuka pintu ke dunia baru yang penuh dengan potensi. Pada tahun 2023, Malaysia menjadi salah satu negara penambang Bitcoin terbesar di dunia. Malaysia, dengan 4,59% dari total hash rate global, adalah negara penambang Bitcoin terbesar keenam di dunia. Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara, Malaysia menunjukkan bahwa pertambangan Bitcoin bukan hanya dominasi negara-negara besar.
Indonesia di tahun 2023 mungkin belum masuk dalam daftar 7 negara penambang Bitcoin terbesar di dunia, tetapi jangan salah, Indonesia juga memiliki peran dalam pertambangan Bitcoin. Dengan jumlah pengguna internet yang besar dan pertumbuhan teknologi yang pesat, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain penting dalam pertambangan Bitcoin di masa depan.

