Meski Hadapi Tantangan Berat di 2024, Austindo (ANJT) Cetak Lompatan Laba Ditopang Faktor Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Austindo Nusantara Tbk (ANJT) berhasil membukukan lompatan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$ 9,64 juta pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 5,15 juta.
Manajemen ANJT dalam rilis laporan kinerja keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/3/2025) menyebutkan bahwa lompatan laba tersebut berbanding terbalik dengan pendapatan perseroan yang justru turun dari US$ 237,56 juta menjadi US$ 236,81 juta. Sebaliknya beban pokok pendapatan turun drastis dari US$ 202,42 juta menjadi US$ 189,54 juta. ALhasil laba bruto naik dari US$ 35,14 juta menjadi US$ 47,26 juta.
Baca Juga
Astra Agro Lestari (AALI) Sabet Investortrust Best Stock Awards 2025
Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini juga membukukan lompatan laba usaha dari US$ 21,64 juta menjadi US$ 30,14 juta. Peningkatan tersebut sejalan dengan penurunan beban karyawan, beban umum dan administrasi, serta peningkatan penghasilan lain-lain.
ANJT juga membukukan penurunan total aset menjadi US$ 573,20 juta pada 2024, dibandignkan periode sama tahun sebelumnya US$ 580,67 juta. Total liabilitas juga juga turun dari US$ 188,74 juta menjadi US$ 181,31 juta.
Secara operasional, ANJT menghadapi tantangan luar biasa pada 2024 akibat kondisi cuaca buruk yang menimbulkan kendala operasional di perkebunan Sumatera Utara II dan Papua Barat Daya.
Hal ini memicu penurunan total produksi Tandan Buah Segar (TBS) perseroan sebanyak 11,7% dari 881.051 ton pada 2023 menjadi 777.615 ton pada 2024. Produktivitas TBS per hectare (ha) turun turun dari 20,3 ton per ha pada 2023 menjadi 18,4 ton per ha pada 2024. “Penurunan produksi paling parah dicatatkan perkebunan Papua Barat Daya dengan penurunan 31,8% menjadi 82.195 ton tbs,” tulis manajemen ANJT.
Menurut manajemen ANJT bahwa penurunan akibat kondisi cuaca ekstrem telah memicu wabah penyakit tanaman, yang semakin memperburuk capaian produksi kami. “Kami memperkirakan produksi akan kembali meningkat pada kuartal III-2025, sekitar enam bulan setelah remediasi penyakit tanaman dilakukan,” terangnya.

