HUT Ke-7, Reku Targetkan Transaksi Naik 20% di 2025 hingga Jajaki Peluang IPO
JAKARTA, investortrust.id – Reku, platform investasi aset kripto dan saham Amerika Serikat (AS) genap berusia 7 tahun di awal tahun ini. Sejak diluncurkan pada tahun 2018 lalu, Reku telah mencatatkan berbagai pencapaian yang menggambarkan ketangguhan perusahaan dalam bertahan di tengah persaingan di industri.
Co-CEO Reku Jesse Choi mengatakan, perusahaan mencatatkan berbagai pencapaian yang menggambarkan ketangguhan perusahaan dalam bertahan di tengah persaingan di industri.
“Sepanjang 2024, penghasilan Reku tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya dengan margin keuntungan sebanyak double digit, yang memperkuat posisi kami sebagai aplikasi investasi aset kripto dan Saham AS terdepan di Indonesia. Lebih dari itu, semua pencapaian ini turut menggambarkan kepercayaan dan kepuasan pengguna yang terus bertahan hingga tahun ketujuh ini,” ungkap Jesse pada acara hari jadi Reku ke-7, di Jakarta, Jumat (7/2/2025) malam.
Faktor kondisi pasar sepanjang tahun 2024, sambung Jesse, juga turut mendukung pertumbuhan Reku. “Di awal tahun terdapat peristiwa Bitcoin halving dan diperkenalkannya exchange-traded fund (ETF), di mana Bitcoin juga mencapai All-Time-High (ATH) baru. Selanjutnya di Kuartal-IV misalnya pada November lalu, Bitcoin juga mencatat ATH sebanyak lima kali berturut-turut. Momentum ini mendorong peningkatan adopsi dan investasi kripto di Indonesia dan global,” jelasnya.
Baca Juga
CEO sekaligus Co-Founder Reku Sumardi Fung menambahkan, Reku di 2024 mencatatkan nilai transaksi sekitar Rp 100 triliun. Adapun di tahun ini, Reku menargetkan nilai transaksi meningkat 15%-20%. Target tersebut diharapkan bisa tercapai mengingat Reku baru saja meluncurkan perdagangan future kripto atau trading future crypto.
Trading future crypto adalah kontrak perjanjian untuk membeli atau menjual aset kripto pada harga tertentu di masa depan. Dalam kontrak ini, kamu bisa berspekulasi mengenai kenaikan atau penurunan harga aset tanpa harus memiliki aset tersebut secara langsung. Ini memungkinkan kamu untuk mengambil posisi long (beli) jika memprediksi harga akan naik, atau short (jual) jika memprediksi harga akan turun.
“Kami baru meluncurkan futures trading, sudah propaganda hampir seminggu. Kami juga akan memperkenalkan lebih lagi saham AS sehingga porsi kontribusi transaksi dari saham AS bisa naik dari hanya 5% di tahun 2024 menjadi 20%. Jadi kripto 80% dan saham AS 20%,” kata Sumardi kepada Investortrust.
Untuk informasi, Reku menyediakan lebih dari 600 saham AS di tahun 2024 untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna dalam mendiversifikasikan investasinya ke saham AS mulai dari US$ 1.
Sumardi juga mengaku, Reku tengah menjajaki berbagai peluang investasi, termasuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
“Kami eksplor IPO, mungkin akhir tahun ini atau awal tahun depan sambil lihat kondisi pasar. Tapi, masih diskusi ringan. Eksplor apakah itu yang terbaik buat perusahaan atau tidak,” ujarnya meski enggan menyebutkan berapa persen porsi saham yang akan dilepas termasuk target dana IPO nantinya.
Baca Juga
Genjot Pertumbuhan Industri Kripto Tanah Air, Reku Kantongi Lisensi PFAK dari Bappebti
Optimisme Indonesia
Di saat yang bersamaan, CCO sekaligus Co-Founder Reku Robby Bun turut menyatakan optimismenya terhadap pertumbuhan industri investasi termasuk potensi Indonesia sebagai pusat kripto Asia.
“Pesatnya pertumbuhan industri kripto di Indonesia sejak peresmiannya pada tahun 2018 lalu memperkuat langkah Indonesia menjadi pusat kripto Asia. Jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai 22,11 juta orang, melebihi jumlah investor instrumen investasi tradisional lainnya seperti pasar modal. Indonesia juga tercatat menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi kripto tertinggi di dunia versi Chainalysis: 2024 Geography of Cryptocurrency Report, tepatnya menduduki peringkat ke-3 setelah India dan Nigeria,” jelas Robby.
Pertumbuhan tersebut tentunya turut didorong oleh dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan industri aset kripto melalui berbagai kebijakan terkait keamanan dan perlindungan konsumen.
“Termasuk diantaranya kewajiban proses know your customer (KYC) untuk anti pencucian uang dan tindakan terorisme. Bahkan, Indonesia merupakan negara yang meresmikan Bursa Kripto pertama di dunia, yang merupakan Self-Regulatory Organization (SRO) terdiri dari bursa, kliring, dan depositori,” kata Robby.
Peningkatan jumlah investor yang dibarengi dengan peralihan pengawasan dari Bappebti ke OJK serta penyempurnaan regulasi di institusi dan kementerian terkait, sambungnya diharapkan bisa menjadi katalis akan potensi kripto yang sangat besar di Indonesia dan Reku siap mendukung pertumbuhan ini.

