Catatan Mandiri Investasi Tentang Tren Pasar Obligasi
JAKARTA, investortrust.id – Divisi riset PT Mandiri Manajemen Investasi menilai pasar obligasi selama bulan Juli 2023 dinilai relatif stabil , meskipun The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,50%. Keputusan The Fed menaikkan Fed rate dengan latar belakang pasar tenaga kerja masih kuat dan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan.
“Pasar melihat konsistensi kebijakan moneter diperlukan untuk memberikan kepastian dalam mengatasi inflasi. Narasi resesi telah memudar dan digantikan oleh kondisi soft-landing ekonomi,” demikian catatan Willy Gunawan, dalam laporan riset Manadiri Investasi.
Pada sisi lain, Bank Indonesia tidak ikut menaikkan suku bunga acuan. BI dinilai terus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. BI menggunakan twist operation dalam menjaga nilai tukar Rupiah dengan menjual SBN jangka pendek di pasar sekunder. Cara ini dinilai punya target meningkatkan daya tarik yield SBN bagi arus masuk investasi portofolio asing.
Sementara itu, kredit perbankan melambat menjadi 7,76% pada Juni 2023 dari 9,39% YoY pada bulan sebelumnya. Perlambatan terjadi saat sisi penawaran oleh tersedianya likuiditas cenderung longgar.
Pada saat yang sama, rencana penyaluran kredit tetap tinggi. Sebaliknya standar penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan cenderung longgar. Melihat fenomena ini, menurut Willy Gunawan, korporasi cenderung mempercepat pelunasan kredit lau wait-and-see dalam meningkatkan rencana investasike depan.
Cukup menarik, IndoGb yield terjaga dengan baik di kisaran 6,2% - 6,3% pada Juli 2023. Mandiri Investasi melihat likuiditas lokal yang cukup memadari menjadi alasan yield tetap stabil. Seiring dengan itu, Mandiri Investasi menawarkan peluang investasi pada sejumlah reksa dana berbasis obligasi.

